Sabtu, 12 November 2011

Cerpen Islami


Cerpen Islami

Rindu Pada-Mu


oleh : Ummi Arza

D
ia berada di tengah-tengah manusia. Manusia yang mempunyai kepentingan yang sama. Mereka berdesakan, saling dorong, saling geser. Ada juga yang seperti orang yang sedang bermain ular naga. Mereka berpegang pada pundak kerabat sendiri, sehingga menjadi panjang. Semua memiliki keinginan yang sama: MENDEKAT, bahkan paling dekat.
Ribuan manusia yang saling berdesakan itu ada juga yang mengalah, tapi lebih banyak yang bernafsu mendekat, walau mereka dihalau terus oleh petugas setelah mereka berhasil mendekat. Desakan tanpa teriakan, desakan keharuan, desakan kepuasan nurani.
          Ini selalu terjadi setiap tahun. Pasti terjadi. Dia bahkan setiap tahun selalu manjadi peserta aktif  di tempat ini. Desakan ribuan orang ini tak pernah berkurang, bahkan selalu bertambah. Rutinitas yang sangat melelahkan.
          Dia selalu bersama bapaknya. Namun kali ini ia bersama anggota keluarga yang lain. Bersama semuanya, dari nenek sampai cucu-cucunya. Hari ini ketika dia berada dalam situasi ini air matanya tidak surut-surut, padahal ia tak mau menangis. Dia ingin tersenyum puas. Namun, tiap senyumnya tersungging, rasa halus kebahagiaan menjelmakan tetes air mata.
          “Bapak berangkat jam berapa?” tiba-tiba Ladya dikagetkan oleh pertanyaan kakaknya. Dengan cepat ia menyusut air  matanya.
          “Jam 6.30 nanti,” jawabnya pendek sambil terus berusaha tenang. “Habis Magrib,” tegas Diya lagi.
          “Dek, sunyum bangga hendaknya kita bawa, bukan air mata supaya bapak selalu bisa tersenyum untuk kita,” kakaknya berkata lembut.
          “Ya Kak, rasa bangga, tak percaya, bahagia, semuanya menjadi satu. Rasa bahagiaku yang mengalir halus yang mengeluarkan air mata,” jawab Ladya membela diri. “Orang-orang berangkat dengan kemampuan dan kewajarannya, tapi bapak? Bapak berangkat dengan angan-angan dan mimpi. Dan saat ini adalah mimpi yang nyata  bagiku. Sekian tahun mimpi ini hanya menjadi bunga dalam tidurku dan juga bapak. Mimpi ini menjadi buah dalam doanya, dalam doa kita, juga dalam doa orang-orang yang mengagumi bapak. Dan, hari ini mimpi itu benar-benar menjadi nyata...” kata-kata ini terus mengalir dalam benak Ladiya dengan puji syukur yang tak terhingga.
∞∞∞
          Saat  usianya masih 5 tahun, sebelum subuh Diya sudah tidur di atas bak truk, di atas pangkuan bapaknya. Dia diangkat dari tempat tidurnya ke atas truk bersama anak-anak lainnya, bersama orang tua masing-masing. Tubuh mungil Diya terombang-ambing ketika truk yang mereka tumpangi melintasi jalan berbatu, berkelok, dan menanjak. Jangan khawatir, karena  Diya sudah mengenakan pakaian terindahnya sebelum tidur. Ia tau tak akan ada waktu buat ganti. Ia tau benar sebelum subuh tubuh mungilnya akan berpindah dari atas kasur kapuk  ke atas bak truk pengangkut sapi.
Ia senang, karena pada momen seperti inilah ia dapat naik mobil dan melihat tempat-tempat yang jauh. Sebenarnya ia tak tau kemana dan untuk apa  ia pergi ke tempat yang begtu jauh. Ia hanya tau ini momen istimewa. Ia hanya tau bapaknya mengajaknya naik mobil, makan-makan, dan belanja-belanja. Ini momen tahunan. Setiap tahun.
Ketika Diya menginjak usia remaja ia baru paham dan tau betul makna apa yang ia dan orang-orang kejar dengan naik truk malam-malam, dan berdesak-desakan pula di tempat tujuan.
Mengantarkan para tamu Allah yang akan beribadah ke Tanah Suci... Ah, ini rupanya yang membuat bapak Ladiya selalu bersemangat. Mengantarkan saja begitu antusiasnya. Apalagi ia sendiri yang menjadi tamu Allah, menjadi orang yang diantar.  Ini menjadi harapan yang mengerak di dasar hati. Ini yang menjelma menjadi mimpi-mimpi yang terasa makin jauh saja. Ini menjadi angan-angan Ladyia dan keluarga yang terpendam selama bertahun-tahun.
Bertahun-tahun, sampai puluhan tahun. Tiap menjelang Zulhijjah bapak kedatangan tamu. Mereka meminta bapak memanjatkan doa agar mereka jadi haji mabrur. Lalu, mempersilakan bapak buat mengemas barang-barang yang akan mereka bawa di dalam kopor besar. Kata mereka biar afdol. Lalu, mereka mohon agar bapak berkenan ikut mengantar mereka sampai bandara. Lalu, menjadi imam mereka shalat di penampungan.
Lalu, mereka lupa bapak juga ingin seperti mereka. Mereka tidak sadar bapak memendam ini selama bertahun-tahun. Mereka tidak tau kerinduan itu begitu membuncah. Ya, membuncah dan mengikis keperkasaan bapak untuk berdesakan  mendekat dan masuk ke dalam asrama haji yang dijaga ketat. Dan, ini adalah tahun kelima bapak terpaksa menolak keinginan beberapa orang dari mereka, karena bapak hanya mau mengantar sampai gerbang masjid.
          Maafkan bapak hamba, ya Allah.  Bukan berarti ia putus asa akan magfirah dan kasih sayang-MU. Entahlah, hamba tak tau, Engkaulah yang Maha Mengetahui segala yang nyata dan tersembunyi. Lalu, biarkan bapak menemui-Mu, memenuhi panggilan-Mu, dengan cara yang Engkau ridhoi. Batin Diya terus menggerutu sepanjang hari di hari-hari keberangkatan jamaah hajji menjelang Zulhijjah.
          Sampai hari ini datang. Air matanya terus mengalir. Ia  sungguh tak tau teori ilmiah yang mengatakan, air mata mengalir saat kita sangat bahagia.
         


“Diya, kita sudah sampai..” tegur kakak dengan sentuhan halus di pundakku.
          Diya  menoleh ke sekeliling. Wajah-wajah penuh bahagia terlihat begitu jelas. Satu per satu mereka mendekati pintu mabil untuk bergegas begabung dengan ribuan orang yang berdesakan. Kini Diya benar-benar merasakan getar itu. Benar-benar merasakan debar haru itu. Debar yang menghilangkan segala capek dan lelah. Debar yang  penuh ikhlas melepas dan penuh sabar menanti bapak kembali dengan pakaian hajji yang suci.
          Akhirnya, bapak terpilih sebagai tamu-Nya. akhirnya doa-doa yang merambat ke langit ketujuh telah dijawab begitu mesra oleh Sang Penjawab Doa.

Labbaik Allahumma Labaik
labbaik Allahumma labbaik






































Pengadangan, 4 Zulhijjah 1432H
  
           

Kamis, 03 November 2011

Epos : Songopati


Songopati Kisah Kedua
A
ku menyelinap di celah-celah semak yang cukup tinggi. Tentu saja ingin menyaksikan dari dekat upacara yang mereka lakukan. Upacara sakral yang sempat kusaksikan beberapa tahun silam. Sebuah kisah yang menakjubkan itu kini terulang lagi. Akankah kubiarkan semua itu terjadi di depan mataku sendiri? Entah!
Sebentar! Akan kuceritakan dulu hasil penelusuranku. Kali ini aku berada di sebuah rumah salah seorang penduduk. Mereka tengah bertengkar mulut. Tak seorang pun dari mereka mau mengalah. Yang satu mempertahan tradisi. Yang lain mencoba lebih realistis.
“Anak ini tak boleh dibawa!”
“Ini tradisi turun-temurun.”
“Aku tak ingin menyakitinya.”
“Tak ada yang menyakiti siapa-siapa. Arwah nenek moyang kita tak mungkin membuat ritual yang menyakiti...”
“Bunyi tetabuhan menakutkannya. Asap kemenyan menyesak napasnya. Keris yang terhunus menciutkan nyalinya...”
“Lalu, bagaimana kita sembunyi dari masyarakt kita? Bagaimana kita menghadapi cibiran dan gunjingan para tetangga...?”
            Lalu sepi.
            Ada yang datang. Pakaiannya aneh. Serba putih, longgar, hampir tertutup semua. Ia seperti mahluk asing di tempat ini. Postur tubuhnya lebih tinggi dari siapa saja di tempat ini. Hidungnya lebih panjang dari hidung siapa saja di sini. Bersih, ia lebih bersih dari orang-orang di tempat ini. Sorot matanya tajam menghunjam penuh wibawa. Ia sering tersenyum bersahabat kepada siapa saja yang menatapnya.
            “Salam,” katanya sambil mengangkat tangannya yang cuma kelihatan ujungnya saja. Ia tersenyum ramah, dan menatap takzim.
            Orang yang bertengkar mulut itu ternganga. Terkesima. Sang tamu mengulur tangan kepada yang lelaki. Lalu, berkata dengan bahasa setempat yang kaku, “Pergilah...! Insya Allah tak ada yang tersakiti...”. (Insya Allah....Ungkapan aneh apa lagi ini? Batinku bertanya-tanya).
            “Tapi.... anak ini...”
            Sang tamu mengangguk dan tersenyum memberi penguatan. “Aku Songopati, pengembara dari negeri yang sangat jauh. Aku lama menetap di Jawa.” Ia memperkenalkan diri. Lalu beranjak pergi begitu tuan rumah menoleh sebentar kepada istrinya.
            Mereka terkesima, seperti mimpi. Kini mereka bergegas menuju balai pertemuan di bawah beringin yang rindang.
﴿﴾﴾﴿﴿﴾
            Kita kembali ke balik semak-semak, mengintip apa yang akan terjadi hari ini. Aku berdebar lebih kencang daripada yang dulu. Entah dengan pertimbangan apa, anak itu kini harus ditusuk dengan keris pusaka yang tajam itu pada tiga titik mematikan. Dua di bagian dada, dan satu di kepala.
Rupa-rupanya anak yang satu ini sudah lewat dari tujuh hari usianya. Itu sebabnya perlakuannya sedikit berbeda dari yang kulihat dulu. Aku berkesimpulan sendiri.
Bunyi tetabuhan membahana. Kini tak mampu mengalahkan degup jantungku. Ini benar-benar memompa adrenalinku. Keringat dingin mengucur di sekujur tubuhku. Mataku tak berkedip, karena aku tak ingin kehilangan momen berharga ini.  Orang-orang mulai berkerumun. Ini saatnya aku menyelip di antara mereka, karena mereka tak akan menyadari apa-apa dan siapa-siapa. Semua perhatian mereka sudah terkuras habis.
Para pemuka adat kali ini lebih riuh. Mereka berjingkrak-jingkrak mengikuti tetabuhan. Sebelumnya mereka menenggak beberapa gelas tuak yang telah disediakan. Ketua adat berputar-putar di arena. Semua menari, baik laki maupun perempuan. Ada yang menebar kembang mayang, ada yang menebar biji-bijian ke segala arah mata angin.
Hiruk-pikuk, kesurupan, sakral, bau kemenyan, wangi bunga, berbaur tak menentu. Namun sayup-sayup aku mendengar isakan dari celah hiruk pikuk sakral itu. Di sisi meja seorang perempuan setengah baya tak henti-hentinya menyeka air mata sembari menatap buah hatinya yang menangis kencang di atas meja. Seorang lelaki menatap gamang. Ia benar-benar tak bisa berbuat apa-apa.
Tibalah saat yang mendebarkan itu. Pompaan adrenalin semakin kencang, bersamaan dengan keluarnya sang pusakan dari warangka. Lalu dibawa berputar-putar oleh pengemban adat. Sebuah tarian atraktif tersaji. Indah yang magis. Putaran itu semakin mengarah ke titik sasaran. Anehnya si bayi tak lagi menagis.
Ujung keris itu mendekati dada sebelah kiri si bayi. Gerakannya sangat pelan dan berirama. Wow, sasaran mematikan, pekikku dalam hati. Akankah hari ini aku akan menyaksikan pembantaian seorang anak kecil yang tak berdaya? Di mana hati nurani itu?
Astaga, tetesan darah menerpa dada kecil itu! Aku terkesiap. Rupa-rupanya, darah itu dari ujung jemari mungilnya. Si mungil masih saja asyik memainkan jemarinya di ujung keris yang terulur. Kini ia menangis kencang. Lebih kencang dari yang tadi. Tangisan seribu belati yang menyayat hati.
Hadirin bergumam. Gumam yang campur-baur. Gumam itu terdengar disela-sela tetabuhan yang tak lagi riuh. Semua mata melotot kaget. Keris masih saja menderas. Ini harus dihentikan! Ini harus dicegah! Aku berteriak, tapi tak bisa berbuat apa-apa.
Anehnya, aku tak mendengar tangisan perempuan setengah baya. Bahkan ia tak lagi berdiri di sana. Hey, seberkas cahaya! Dari mana asalnya? Aku ikuti dengan mata. Orang-orang tak menyadarinya. Atau mungkin mereka tak diberi hak untuk melihat cahaya itu. Aku  terkejut ketika melihat sosok tinggi serba putih itu tengah komat-kamit dan mengangkat tangan. Di tangan kanannya tergantung seuntai tasbih. Ia memejamkan mata. Seluruh tubuhnya berselimut cahaya. O, rupanya wanita setengah baya dan lelaki itu ada di sampingnya. Mereka duduk bersimpuh.
Gumam itu berganti gemuruh. Teriakan histeris bersamaan dengan kilatan petir. Pemuka adat terpental bersamaan dengan kilat yang menyambar keris pusaka. samua mulut menganga. takjub luar biasa. kejadian seperti ini sungguh tak pernah terjadi. Bahkan tak pernah terlintas dalam pikiran mereka. Kini keris itu tergeletak tanpa pamor di sisi meja.
Sementara sang banyi telah damai di pelukan ibu. Mereka beranjak meninggalkan tempat itu menuju sebuah tempat rahasia, beberapa kilo meter dari tempat itu.

Kamis, 17 Maret 2011



Menulis itu ya MENCOBA, MEMULAI, DAN BERSUNGGUH-SUNGGUH.
Berapa kali setelah selesai membaca sebuah novel Anda berkata, “Saya bisa menulis buku seperti ini.” Tahukah Anda bahwa Anda benar. Kita semua, saya yakin, memiliki sedikitnya satu novel di dalam pikiran atau hati kita. Penulis novel Toni Morrison mengatakannya seperti ini: “Jika ada satu buku yang benar-benar ingin Anda baca dan belum pernah ada yang menulis sebelumnya, maka Anda harus menulisnya.”
Menulis buku bukan hal yang mudah. Namun, setiap hari selalu ada buku yang diterbitkan.
Pada tahun 1996, menurut Books in Print, ada 1,3 juta judul buku diterbitkan. Jumlah buku yang diterbitkan di Amerika Serikat pada tahun 1996 saja berjumlah 140.000. Jadi, mengapa Anda tidak mulai melakukannya? 


Saya yakin jika Anda bisa menulis sebuah kalimat yang sederhana (terlebih, inilah yang ditulis oleh Ernest Hemingway), mengamati dunia di sekitar Anda, dan ingin menulis novel yang bisa dijual—sungguh-sungguh menginginkannya, bukan hanya sekedar menginginkan saja—maka Anda pasti bisa melakukannya. Saya tidak percaya orang bisa menjadi penulis dengan mengikuti workshop, membaca buku, atau bahkan membaca artikel tentang tips menulis. Tulisan muncul dari sesuatu yang ada dalam diri seorang penulis. 
(John Coyne,dalam Tips Menulis Novel dalam 100 Hari   Coba cek di
www.peacecorpswriters.org
)