Bismillah
JIN CURANGun
( Sebuah drama )
Para pelaku :
|
|
Drama ini menggambarkan sebuah dagelan politik pendidikan di sebuah negeri atas angin. Penguasa negeri itu telah memberlakukan sebuah undang-undang yang benar-benar bertentangan antarpasal. Ibarat tubuh, anggota badan yang satu bertentangan kemauan dan kepentingan dengan anggota badan lainnya.
BABAK I
Penguasa | : | Mereka salah! Ya, jelas salah. Mereka bodoh! Ya, jelas bodoh. Tau apa mereka tentang pendidikan? Tau apa mereka tentang kurikulum? Mereka keterlaluan. Sungguh terlalu! Dikiranya mudah buat undang-undang. Dikiranya mudah bikin peraturan. Mereka yang tidak becus, eh, aku yang disuruh ubah peraturan. Mereka yang bodoh, eh, malah undang-undang disalahkan. |
Pendidik | : | Waduh! Waduh! Waduuuuh! Pusing! Pusing! Pusiiiing! Dinaikkan? Dinakkan lagi? Tahun lalu, empat koma nol. E, yang lulus cuma enam belas persen. Rakyat demo. Mereka tak mau tau. Mereka hanya mau anak-anak mereka lulus. Dan sekarang berapa persen yang bakal lulus dengan standar lima koma lima……(menepuk jidatnya sendiri, dan beranjak menuju tempat yang sesuai) |
Murid I | : | Lima koma lima? Ya, Tuhan, tolonglah kami… kami tak mau kesandung batu ujian. Tolong luluskan kami ya, Tuhan. Oh Tuhan tolonglah kami ini. Kami ingin lulus ujian. |
Murid II | : | Tenang sobat! Sabar, teman! Tidakkah penguasa telah menciptakan paket B untuk murid yang bodoh? |
Murid III | : | Kami tak mau! Sungguh kami tak mau. Tiga tahun kami sekolah di sini, masak kami berijazah paket B. Hare gene Paket B? Apa kata dunia? |
Murid IV | : | (masuk dengan membawa setumpuk buku) Di mana ya tempat belajar yang bagus….(bicara sendiri) |
Murid II | : | Eit! Mau ke mana? Bawa apa? Udah gak perlu! (menarik lengan murid IV, lalu berbisik) Aku dapat bocoran, katanya akan ada bocoran. |
Murid-murid yang lain merapat mendekatkan telinga ke Murid II. Masing-masing menempati posisi mereka. Di sisi kiri penguasa duduk termangu. Di sisi kanan pendidik duduk menopang dagu. Di tengah para siswa berdiri/duduk dengan posisi yang enak dipandang. Musik berdentam. Lagu: Pernahkah kau merasa (Ungu). Pendidik meninggalkan panggung. Satu per satu murid juga meninggalkan panggung. Tinggallah sang penguasa dalam posisi semula. Gelisah. Muncul jin gentayangan. Berseliweran mengelilingi penguasa. | ||
Penguasa | : | Siapa kalian? Kalian siapa? |
Jin | : | Kami tau Tuan lagi bingung. Bingung dengan angka-angka. Angka-angka yang menjadi tolok ukur kualitas manusia. Ya, kan? Kan, ya? |
Penguasa | : | Hei, tau dari mana kalian? Itu namanya, sok tau! Aku tak butuh kalian! Pergi sana! Pergi dari hadapanku! Pergi! |
Jin | : | Oke, Tuan. Baik, kami kan pergi. Tapi, jangan lupa, kalau Tuan berubah pikiran, ini nomor hape saya. Tolong disimpan baik-baik, oke? Good by…! (menyerahkan secarik kertas) |
Mr. Trik | : | Hallo… Mister. Kenalkan, saya Mr. Trik. Jago komputer. Jago iptek. Jago bikin trik-trik Trik meraih gelar sarjana tanpa kuliah. Trik mendapat suara dalam pileg. Trik menangakap para koruptor. Termasuk trik menjebak ketua KPK agar meringkuk di penjara, dan para koruptor semakin korup. |
Penguasa | : | Hei, aku gak butuh itu semua! Aku sudah sarjana. Aku bukan caleg. Aku juga bukan koruptor. Juga bukan ketua KPK. Jadi gak butuh trik-trik kamu. |
Mr. Trik | : | Aku….. maaf ikut pake “aku” saja, ya? Pake “saya” agak repot dan terlalu merendah, he he… |
Penguasa | : | Jangan berbeli-belit! |
Mr. Trik | : | Aku tau yang Tuan pikirkan. Nilai? Eh salah. Angka-angka? Gampang! |
Penguasa | : | He! Tau dari mana kamu? Dari mana kamu tau? Itu namanya sok tau! Tau? Sebaiknya kamu pergi….! |
Mr. Trik | : | Sebentar! Dengarkan dulu! Aku juga tau trik mencapai nilai bagus…. |
Penguasa | : | Pergi! Pergiiiiiii! |
Mr. Trik segera mengambil tasnya, lalu pergi. Tuan Penguasa berjalan berputar. Berpikir. Lalu, duduk di sudut panggung. | ||
Mr. Bimb | : | (Melangkah dengan gaya sok intelek) Good morning, Sir! Good morning! Kok diam aja? Ada apa? Bingung? |
Penguasa | : | Siapa lagi ini? |
Mr. Bimb | : | Hey, akhirnya Mister cakap juga. Kenalin I’m Mr. Bimb. I Ahli dalam segala bimbingan. I know Mister sedang susah. Makanya I dateng ke sini. I see. Saya tau, kita butuh bukan hanya PRESTASI, tapi juga PRESTISE. Ya, kan? |
Penguasa | : | Republik Atas Angin yang saya pimpin ini, negeri yang terendah dari segi kualitas sumber daya manusia. SDM paling rendah sejagad. (Berhenti sejenak. Melangkah). Waduh aku pusing. Padahal negeri ini kaya. Gunungnya mengandung emas berlimpah. Tanahnya menumbuhkan pohon-pohon yang rindang. Anginnya membelai. Airnya menyegarkan. Tapi, apa yang salah? Ini salah siapa? |
Mr. Bimb | : | Saya ada solusi, Mister. |
Penguasa | : | Sebentar! Aku belum selesai! (diam sejenak, lalu menatap penonton). Tahun lalu, aku dipermalukan. Aku malu sekali. Hanya 16 persen. Enam belas persen. Sementara negeri-negeri tetangga banyak yang seratus persen. Bagaimana caranya? Ada yang bilang mereka curang. Ternyata CURANG tak terbaca oleh komputer. Komputer hanya membaca angka-angka. Tapi, nasib kita, nasib anak negeri ini sudah terlanjur digantung pada keyboard dan mouse komputer. |
Mr. Bimb | : | Saya ada solusinya, Tuan Penguasa! |
Penguasa | : | Katakannlah! Siapa tau aku tertarik. |
Mr. Bimb | : | Bimbingan belajar! (bersemangat) I bisa membimbing anak-anak itu agar bisa lulus semua. Seratus persen! Lulus seratus persen! I promis, deh. |
Penguasa | : | Sebentar! Sepertinya ini cukup masuk akal. Aku akan menghubungi para pendidik dulu. Aku tertarik dengan ocehan Anda. (mengeluarkan hape, memencet-mencet) Halo! Segera datang ke kantor sekarang juga. Ya, saya tunggu… oke oke oke! (memasukkan hape ke dalam saku celana) |
Mr Bimb | : | Serahkan saja sama ahlinya (menepuk dada). |
Pendidik | : | (tergopoh-gopoh, melangkah dengan santun) Assalamualaikum…. |
Penguasa | : | Silakan! Silakan duduk! (melangkah menjauh dari pedidik) Tolong dengar apa kata Mr. Bimb! (memandang Mr Bimb) Lanjutkan Mister! |
Mr. Bimb | : | Oke! Dengarkan baik-baik! Pertama : hentikan membahas isi kurikulum! Kita fokus bahas soal-soal aja. Persetan dengan KTSP! Persetan dengan nilai moral! Persetan dengan teori afektif, kognitif, dan psikomotor! Karena itu semua tak terbaca oleh dewa komputer. Yang kedua, beri mereka pelajaran tambahan. Di sekolah dan di luar sekolah. Tenang! Semua akan beres! Serahkan saja sama ahlinya! (menepuk dada) |
Pendidik | : | Tapi?! |
Penguasa | : | Oh No! Gak pake tapi-tapi! Ikuti alur aja! Aku setuju dengan Mr Bimb. Aku bosan jadi pecundang. Ternyata dedikasi dan idealisme tak ada gunanya. Soalnya… |
Mr. Bimb | : | TAK TERBACA KOMPUTER…. (tertawa berasama) |
Penguasa dan Mr Bimb tertawa bareng. Sementara Pendidik nampak menggeleng-gelengkan kepalanya. Tiba-tiba duet tawa itu terhenti oleh salam yang fasih. Mr Trik datang bersama Ustaz. | ||
Ustaz | : | Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh….! |
Penguasa | : | Silakan! Silakan…. |
Ustaz | : | Menjawab salam itu wajib. Lupa, ya? Atau pura-pura lupa? |
Penguasa, | : | Maaf, saya lupa. Tolong maafkan, Ustaz! (memandang yang lain) Ayo jawab sama-sama! Tu wa ga pat! Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh….(Serempak) |
Ustaz | : | Terima kasih, kami semua diundang untuk istigosah. Ana senang! Ternyata para penguasa negeri ini, para pendidik di negeri ini, tak pernah lupa pada kekuasaan Tuhan. Tuhan memang telah berfirman “Berdoalah kalian, niscana akan Kukabulkan! Tapi ingat, doa itu harus dibarengi dengan ikhtiar, lo! |
Penguasa menarik Mr Trik agak menyamping. Mereka bertengkar sebentar. Akhirnya, Penguasa manggut-manggut. | ||
Mr Trik | : | Maaf, Tuan! Kami juga membawa anak-anak. Menurut Pak Ustaz, doa anak-anak lebih mudah dikabulkan. Apalagi mereka yang teranianya, tertekan menghadapai hantu UN. |
Penguasa | : | Maksud anda apa? |
Mr Trik | : | Ini salah satu dari trik, Tuan. Tadi saya kirim Mr Bimb ke mari. Sekarang saya datang bersama Ustaz dan anak-anak. Ini juga trik, Tuan. (bertepuk tangan tiga kali, memanggil para murid) |
Murid-murid melangkah dengan rapi dan mengambil posisi yang sesuai. Musik mengalun. | ||
Penguasa | : | Silakan, Pak Ustaz… |
Ustad | : | Syukron jazila. Marilah kita berdoa bersama-sama! (Mulai berdoa, yang lain mengamini) Bismillahirramanirahim, Ya Allah, tolonglah kami! Tolonglah anak-anak kami! Berilah mereka nilai yang bagus-bagus! Luluskan mereka seratus persen! Seratus persen, Ya Allah! Kabulkanlah permohonan kami…. Amin (mengusap wajah dengan kedua telapak tangan, yang lain mengikuti) |
Hadirin pamit satu per satu. Tiggallah Penguasa, Mr Trik, dan Pendidik. | ||
Pendidik | : | (bangkit dan menyalami Penguasa) Saya pamit dulu, Bos! |
Penguasa | : | Mari-mari, (mengantar Pendidik sampai ke pintu) Ingat pak! Seratus persen harus terkabul. |
Pendidik | : | Ah, Bos, bercanda kali….(tersenyum) |
Penguasa | : | Siapa yang bercanda? Okelah, SEMBILAN PULUH LIMA PERSEN, oke?! Ingat ini perintah! (melepas pendidik dan kembali ke belakang menemui Mr Trik.) |
Pendidik | : | (berdiri di pinggir depan panggung) Sembilan piluh lima persen? Astaga! Mau dibawa ke mana republik ini? (Geleng-geleng kepala, berdecak, lalu keluar) |
Penguasa | : | Thanks for all, Mister! Anda hebat! Maafkan aku pernah ngusir Anda. |
Mr Trik | : | Sssstt! Masih ada satu TRIK, Mister. (bibirnya mendekati telinga Penguasa, lalu berbisik) |
Penguasa | : | Ooo, yang itu. Aku juga berpikir begitu. Tenang, ada nomor hapenya sama aku. Sebentar! (merogoh saku celana, mengambil hape, dan menghubungi seseorang) halooo, bisa datang sekarang? Oke, oke, oke! |
Mr Trik mengeluarkan laptop dari tasnya. Mengetik sesuatu. Sementara para jin berdatangan dari berbagai penjuru. Mr Trik membagi-bagikan kertas kecil kepada semua Jin yang ada. Mereka menerima tugas dengan senang hati. Mereka siap melaksnakan tugas. | ||
BABAK II | ||
Sound | : | Come join us… Saatnya telah tiba…. Come join us…. Saat UN telah tiba… |
Ujian dimulai. Semua murid duduk dengan tegang. Di depan pengawas (Pendidik) duduk dengan gelisah. Di tempat yang sesuai terdapat spanduk bertuliskan,“HARAP TENANG ADA UN” | ||
Pendidik | : | Anak-anak, hari ini kita menghadapi UN. Tapi, jangan takut! Jangan gentar! Dahulu para pahlawan bangsa ini meraih kemerdekaan dengan ujian yang sangat berat. Mereka tak pernah gentar, walau nyawa taruhannya. Teladani mereka! Mereka jujur, mereka ikhlas. Mereka tak pernah berbuat curang. Paham? |
Murid | : | Pahaaaam (serentak, kecuali Murid II) |
Pendidik | : | Apa kalian siap? |
Murid | : | Siaaaaaap (serentak, kecuali murid II) |
Pendidik | : | Sekarang naskah soal saya bagikan. Tolong kumpulkan tas kalian di depan kelas. |
Semua murid beranjak dari duduknya, dan mengumpulkan tas di depan. | ||
Pendidik | : | Coba perhatikan! Masih utuh? (mengangkat naskah soal) |
Murid | : | Utuuuuh! (kompak, kecuali Murid II) |
Murid IV | : | Kamu kok diam aja dari tadi? (setengah berbisik) |
Murid II | : | Aku sih, Talk less do more! Sedikit bicara banyak kerja ! |
Pendidik membagi soal kepada seluruh murid. Setelah soal terbagi, tak satu pun murid memegang naskah soal. Mereka menggaruk-garuk, menguap, mengetuk-ngetuk meja dengan ujung jemari, bahkan ada yang tertidur di atas meja. Tiba-tiba, dari segala penjuru Jin datang. Mereka membagi tugas. Ada yang menutup pandangan pendidik, ada yang bertugas membagi kertas kepada murid. Seorang Jin mengacung-acungkan karton bertuliskan “Kunci jawaban” kepada penonton. Jin lenyap. Murid-murid bersemangat setelah melihat kertas di atas meja. Mereka mulai bekerja dnegan riang. | ||
Murid I | : | Hey, kertas apa ini? Kata sms, kunci jawaban |
Murid II | : | Ssssst! Diam! (berbisik) |
Murid I | : | Coba kamu baca! (memperlihatkan temannya) Coba lihat punyamu. |
Murid III | : | Ada apa? Kok ribut? (berbisik) |
Murid II | : | Coba lihat kertasmu! (mengambil kertas) |
Murid IV | : | Ada apa? |
Murid III | : | Ambil kertasmu! |
Murid-murid berdiri berjejer, menghadap penonton. Mengangkat kertas masing-masing, Tulisan mengarah ke penonton. | ||
Murid I | : | INGIN |
Murid II | : | LULUS? |
Murid III | : | RAJINLAH |
Murid IV | : | BELAJAR! |
Murid-murid | : | INGIN LULUS? RAJINLAH BELAJAR! |
Sound | : | Lagu HANCUR (Olga) |
THE END