fiction



Cerpen Islami

Rindu pada-Mu






Oleh Ummi Arzia


D
ia berada di tengah-tengah manusia. Manusia yang mempunyai kepentingan yang sama. Mereka berdesakan, saling dorong, saling geser. Ada juga yang seperti orang yang sedang bermain ular naga. Mereka berpegang pada pundak kerabat sendiri, sehingga menjadi panjang. Semua memiliki keinginan yang sama: MENDEKAT, bahkan paling dekat.
Ribuan manusia yang saling berdesakan itu ada juga yang mengalah, tapi lebih banyak yang bernafsu mendekat, walau mereka dihalau terus oleh petugas setelah mereka berhasil mendekat. Desakan tanpa teriakan, desakan keharuan, desakan kepuasan nurani.
          Ini selalu terjadi setiap tahun. Pasti terjadi. Dia bahkan setiap tahun selalu manjadi peserta aktif  di tempat ini. Desakan ribuan orang ini tak pernah berkurang, bahkan selalu bertambah. Rutinitas yang sangat melelahkan.
          Dia selalu bersama bapaknya. Namun kali ini ia bersama anggota keluarga yang lain. Bersama semuanya, dari nenek sampai cucu-cucunya. Hari ini ketika dia berada dalam situasi ini air matanya tidak surut-surut, padahal ia tak mau menangis. Dia ingin tersenyum puas. Namun, tiap senyumnya tersungging, rasa halus kebahagiaan menjelmakan tetes air mata.
          “Bapak berangkat jam berapa?” tiba-tiba Ladya dikagetkan oleh pertanyaan kakaknya. Dengan cepat ia menyusut air  matanya.
          “Jam 6.30 nanti,” jawabnya pendek sambil terus berusaha tenang. “Habis Magrib,” tegas Diya lagi.
          “Dek, sunyum bangga hendaknya kita bawa, bukan air mata supaya bapak selalu bisa tersenyum untuk kita,” kakaknya berkata lembut.
          “Ya Kak, rasa bangga, tak percaya, bahagia, semuanya menjadi satu. Rasa bahagiaku yang mengalir halus yang mengeluarkan air mata,” jawab Ladya membela diri. “Orang-orang berangkat dengan kemampuan dan kewajarannya, tapi bapak? Bapak berangkat dengan angan-angan dan mimpi. Dan saat ini adalah mimpi yang nyata  bagiku. Sekian tahun mimpi ini hanya menjadi bunga dalam tidurku dan juga bapak. Mimpi ini menjadi buah dalam doanya, dalam doa kita, juga dalam doa orang-orang yang mengagumi bapak. Dan, hari ini mimpi itu benar-benar menjadi nyata...” kata-kata ini terus mengalir dalam benak Ladiya dengan puji syukur yang tak terhingga.
∞∞∞
          Saat  usianya masih 5 tahun, sebelum subuh Diya sudah tidur di atas bak truk, di atas pangkuan bapaknya. Dia diangkat dari tempat tidurnya ke atas truk bersama anak-anak lainnya, bersama orang tua masing-masing. Tubuh mungil Diya terombang-ambing ketika truk yang mereka tumpangi melintasi jalan berbatu, berkelok, dan menanjak. Jangan khawatir, karena  Diya sudah mengenakan pakaian terindahnya sebelum tidur. Ia tau tak akan ada waktu buat ganti. Ia tau benar sebelum subuh tubuh mungilnya akan berpindah dari atas kasur kapuk  ke atas bak truk pengangkut sapi.
Ia senang, karena pada momen seperti inilah ia dapat naik mobil dan melihat tempat-tempat yang jauh. Sebenarnya ia tak tau kemana dan untuk apa  ia pergi ke tempat yang begtu jauh. Ia hanya tau ini momen istimewa. Ia hanya tau bapaknya mengajaknya naik mobil, makan-makan, dan belanja-belanja. Ini momen tahunan. Setiap tahun.
Ketika Diya menginjak usia remaja ia baru paham dan tau betul makna apa yang ia dan orang-orang kejar dengan naik truk malam-malam, dan berdesak-desakan pula di tempat tujuan.
Mengantarkan para tamu Allah yang akan beribadah ke Tanah Suci... Ah, ini rupanya yang membuat bapak Ladiya selalu bersemangat. Mengantarkan saja begitu antusiasnya. Apalagi ia sendiri yang menjadi tamu Allah, menjadi orang yang diantar.  Ini menjadi harapan yang mengerak di dasar hati. Ini yang menjelma menjadi mimpi-mimpi yang terasa makin jauh saja. Ini menjadi angan-angan Ladyia dan keluarga yang terpendam selama bertahun-tahun.
Bertahun-tahun, sampai puluhan tahun. Tiap menjelang Zulhijjah bapak kedatangan tamu. Mereka meminta bapak memanjatkan doa agar mereka jadi haji mabrur. Lalu, mempersilakan bapak buat mengemas barang-barang yang akan mereka bawa di dalam kopor besar. Kata mereka biar afdol. Lalu, mereka mohon agar bapak berkenan ikut mengantar mereka sampai bandara. Lalu, menjadi imam mereka shalat di penampungan.
Lalu, mereka lupa bapak juga ingin seperti mereka. Mereka tidak sadar bapak memendam ini selama bertahun-tahun. Mereka tidak tau kerinduan itu begitu membuncah. Ya, membuncah dan mengikis keperkasaan bapak untuk berdesakan  mendekat dan masuk ke dalam asrama haji yang dijaga ketat. Dan, ini adalah tahun kelima bapak terpaksa menolak keinginan beberapa orang dari mereka, karena bapak hanya mau mengantar sampai gerbang masjid.
          Maafkan bapak hamba, ya Allah.  Bukan berarti ia putus asa akan magfirah dan kasih sayang-MU. Entahlah, hamba tak tau, Engkaulah yang Maha Mengetahui segala yang nyata dan tersembunyi. Lalu, biarkan bapak menemui-Mu, memenuhi panggilan-Mu, dengan cara yang Engkau ridhoi. Batin Diya terus menggerutu sepanjang hari di hari-hari keberangkatan jamaah hajji menjelang Zulhijjah.
          Sampai hari ini datang. Air matanya terus mengalir. Ia  sungguh tak tau teori ilmiah yang mengatakan, air mata mengalir saat kita sangat bahagia.
         


“Diya, kita sudah sampai..” tegur kakak dengan sentuhan halus di pundakku.
          Diya  menoleh ke sekeliling. Wajah-wajah penuh bahagia terlihat begitu jelas. Satu per satu mereka mendekati pintu mabil untuk bergegas begabung dengan ribuan orang yang berdesakan. Kini Diya benar-benar merasakan getar itu. Benar-benar merasakan debar haru itu. Debar yang menghilangkan segala capek dan lelah. Debar yang  penuh ikhlas melepas dan penuh sabar menanti bapak kembali dengan pakaian hajji yang suci.
          Akhirnya, bapak terpilih sebagai tamu-Nya. akhirnya doa-doa yang merambat ke langit ketujuh telah dijawab begitu mesra oleh Sang Penjawab Doa.

Labbaik Allahumma Labaik
labbaik Allahumma labbaik






































Pengadangan, 4 Zulhijjah 1432H