epos


Quad Arrow Callout: EposS a m a r    K a t o n
A
ku terdampar di sebuah tempat di masa silam.  Sebuah desa, mungkin lebih tepat  disebut sebuah kampung,  dengan  rumah bambu beratap ilalang. Sepi seperti desa mati, tak berpenghuni. Langkah demi langkah kakiku menapaki jalan setapak dan menjejak pekarangan sebuah rumah.  Eh, bukan! Seperti sebuah balai pertemuan, dengan ruang aula yang cukup luas. Sepi yang tadi terasa kini pecah sudah.
Rupanya semua penduduk kampung berkumpul di tempat ini.  Hiruk-pikuk terdengar semakin jelas. Pakaian mereka agak aneh. Bersarung, berdodot, tak berbaju. Sementara yang perempuan bersarung dan berbaju hitam longgar, seperti sayap kupu-kupu. Mereka berkerumun, melingkari sebuah meja lebar. Di atas meja itu tertancap sebuah keris (sepertinya keris pusaka). Di samping keris pusaka itu tergeletak tiga orang  bayi telanjang.
Aku terkesiap. Seorang pemuka adat meraih gagang keris dengan penuh takzim. Bibirnya komat-kamit merapal mantra warisan turun temurun dari leluhur. Tangan yang gemetar menggenggam gagang keris dan melangkah. Tetabuhan gemuruh, seperti detak jantungku. Ia kini berdiri tepat di atas  kepala bayi pertama. Keris terangkat lalu mendekat pelan ke arah kening sang bayi. Dan…
Aku tak kuasa menatap wajah polos sang bayi. Gemuruh gumam bercampur teriakan tertahan memaksaku untuk kembali melihat apa yang tengah terjadi. Akhirnya aku juga bergumam dan tercengang. Bayi itu tak geming sedikit pun ketika ujung keris berdiri tegak menopang gagangnya tepat di jidat bayi pertama. Tak ada darah menetes. Inilah bayi keturunan Samar Katon  tulen.
Aku berdebar lagi ketika keris pusaka diayun kembali ke kepala bayi kedua. Sama sekali kutak tau apa yang harus kuperbuat selain menjadi penonton setia, seperti yang lain. Ini memang tradisi paling gila yang pernah kusaksikan, dari zaman ke zaman yang kulewati. Pemandangan  yang mendebarkan, menyayat, mengerikan, sekaligus memukau. Sebuah tradisi turun temurun selama berpuluh-puluh tahun. Tradisi ini dimaksudkan untuk memastikan pendatang baru di tanah Samar Katon merupakan keturunan asli atau bukan. Pendatang baru (bayi) asli Samar Katon tak tergores oleh keris pusaka walaupun diasah berhari-hari.
Hari ini ada tiga orang berusia tujuh hari. Bayi  pertama sudah terbukti, dan kini bayi kedua menghadapi ujian yang sama. Aku menoleh lagi sambil berdebar. Debaran yang cukup keras seperti tetabuhan yang semakin berdentam-dentam. Kembali aku memalingkan wajah ketika  ujung keris itu mendekati jidat bayi kedua. Gemuruh gumam kembali terdengar. Aku menoleh dan terkesima takjub luar biasa. Seorang bayi mungil terseyum menikmati tusulkan keris pusaka.
Tibalah giliran bayi ketiga yang tengah terbaring pulas sendiri, karena dua bayi lainnya telah aman dalam rangkulan bangga sang ibu. Inilah momen yang paling menegangkan. Detik-detik penentuan. Semua berkeringat dingin berharap. Harapan yang tak jelas dan mebingungkan. Semua berharap sang bayi selamat dari keris pusaka di satu sisi. Di sisi lain, mereka semua berharap selamat dari kematian. Ini adalah pilihan. Tak bisa di ambil dua-duanya. Kalu bayi itu selamat, artinya harus ada salah satu dari mereka yang mati.
Sudah berpuluh-puluh tahun warga Desa Samar Katon selalu berjumah 144 orang. Tak pernah lebih dan tak pernah berkurang. Setiap ada bayi lahir selamat, pasti ada warga masyarakat yang meninggal dunia. Seandainya ada bayi yang mati oleh keris pusaka pada hari ketujuh kelahirannya, legalah hati mereka. Namun, disaat itu juga mereka merasakan pilu tak terkira.
Saat-saat klimaks pun tiba. Tak ada satu pun dari mereka yang hadir di tempat itu merasa tenang dan nyaman. Semua gelisah. Hanya pemangku adat yang tak boleh terpropaganda perasaan sendiri, karena itu bisa berakibat patal. Aku tersentak begitu mendengar teriakan histeris yang mebahana. Mereka lalu saling pandang dengan tatapan aneh. “Rupa-rupanya kali ini giliranmu untuk mati…” begitu kira-kira makna tatapan mereka.
Tatapanku beralih dari wajah-wajah pias. Kulihat bayi ketiga  masih pulas tidur tak terganggu hiruk-pikuk di sekitarnya. Keris pusaka masih berdiri tegak dengan keseimbangan  penuh di antara dua alisnya. Terlahirlah tiga orang  bayi sah Samar Katon yang tak diragukan lagi. Kelak mereka akan menjelma menjadi pemuda-pemuda yang akan menelusuri labirin sejarah panjang sebuah desa di kaki Rinjani.


Songopati Kisah Kedua
A
ku menyelinap di celah-celah semak yang cukup tinggi. Tentu saja ingin menyaksikan dari dekat upacara yang mereka lakukan. Upacara sakral yang sempat kusaksikan beberapa tahun silam. Sebuah kisah yang menakjubkan itu kini terulang lagi. Akankah kubiarkan semua itu terjadi di depan mataku sendiri? Entah!
Sebentar! Akan kuceritakan dulu hasil penelusuranku. Kali ini aku berada di sebuah rumah salah seorang penduduk. Mereka tengah bertengkar mulut. Tak seorang pun dari mereka mau mengalah. Yang satu mempertahan tradisi. Yang lain mencoba lebih realistis.
“Anak ini tak boleh dibawa!”
“Ini tradisi turun-temurun.”
“Aku tak ingin menyakitinya.”
“Tak ada yang menyakiti siapa-siapa. Arwah nenek moyang kita tak mungkin membuat ritual yang menyakiti...”
“Bunyi tetabuhan menakutkannya. Asap kemenyan menyesak napasnya. Keris yang terhunus menciutkan nyalinya...”
“Lalu, bagaimana kita sembunyi dari masyarakt kita? Bagaimana kita menghadapi cibiran dan gunjingan para tetangga...?”
            Lalu sepi.
            Ada yang datang. Pakaiannya aneh. Serba putih, longgar, hampir tertutup semua. Ia seperti mahluk asing di tempat ini. Postur tubuhnya lebih tinggi dari siapa saja di tempat ini. Hidungnya lebih panjang dari hidung siapa saja di sini. Bersih, ia lebih bersih dari orang-orang di tempat ini. Sorot matanya tajam menghunjam penuh wibawa. Ia sering tersenyum bersahabat kepada siapa saja yang menatapnya.
            “Salam,” katanya sambil mengangkat tangannya yang cuma kelihatan ujungnya saja. Ia tersenyum ramah, dan menatap takzim.
            Orang yang bertengkar mulut itu ternganga. Terkesima. Sang tamu mengulur tangan kepada yang lelaki. Lalu, berkata dengan bahasa setempat yang kaku, “Pergilah...! Insya Allah tak ada yang tersakiti...”. (Insya Allah....Ungkapan aneh apa lagi ini? Batinku bertanya-tanya).
            “Tapi.... anak ini...”
            Sang tamu mengangguk dan tersenyum memberi penguatan. “Aku Songopati, pengembara dari negeri yang sangat jauh. Aku lama menetap di Jawa.” Ia memperkenalkan diri. Lalu beranjak pergi begitu tuan rumah menoleh sebentar kepada istrinya.
            Mereka terkesima, seperti mimpi. Kini mereka bergegas menuju balai pertemuan di bawah beringin yang rindang.
﴿﴾﴾﴿﴿﴾
            Kita kembali ke balik semak-semak, mengintip apa yang akan terjadi hari ini. Aku berdebar lebih kencang daripada yang dulu. Entah dengan pertimbangan apa, anak itu kini harus ditusuk dengan keris pusaka yang tajam itu pada tiga titik mematikan. Dua di bagian dada, dan satu di kepala.
Rupa-rupanya anak yang satu ini sudah lewat dari tujuh hari usianya. Itu sebabnya perlakuannya sedikit berbeda dari yang kulihat dulu. Aku berkesimpulan sendiri.
Bunyi tetabuhan membahana. Kini tak mampu mengalahkan degup jantungku. Ini benar-benar memompa adrenalinku. Keringat dingin mengucur di sekujur tubuhku. Mataku tak berkedip, karena aku tak ingin kehilangan momen berharga ini.  Orang-orang mulai berkerumun. Ini saatnya aku menyelip di antara mereka, karena mereka tak akan menyadari apa-apa dan siapa-siapa. Semua perhatian mereka sudah terkuras habis.
Para pemuka adat kali ini lebih riuh. Mereka berjingkrak-jingkrak mengikuti tetabuhan. Sebelumnya mereka menenggak beberapa gelas tuak yang telah disediakan. Ketua adat berputar-putar di arena. Semua menari, baik laki maupun perempuan. Ada yang menebar kembang mayang, ada yang menebar biji-bijian ke segala arah mata angin.
Hiruk-pikuk, kesurupan, sakral, bau kemenyan, wangi bunga, berbaur tak menentu. Namun sayup-sayup aku mendengar isakan dari celah hiruk pikuk sakral itu. Di sisi meja seorang perempuan setengah baya tak henti-hentinya menyeka air mata sembari menatap buah hatinya yang menangis kencang di atas meja. Seorang lelaki menatap gamang. Ia benar-benar tak bisa berbuat apa-apa.
Tibalah saat yang mendebarkan itu. Pompaan adrenalin semakin kencang, bersamaan dengan keluarnya sang pusakan dari warangka. Lalu dibawa berputar-putar oleh pengemban adat. Sebuah tarian atraktif tersaji. Indah yang magis. Putaran itu semakin mengarah ke titik sasaran. Anehnya si bayi tak lagi menagis.
Ujung keris itu mendekati dada sebelah kiri si bayi. Gerakannya sangat pelan dan berirama. Wow, sasaran mematikan, pekikku dalam hati. Akankah hari ini aku akan menyaksikan pembantaian seorang anak kecil yang tak berdaya? Di mana hati nurani itu?
Astaga, tetesan darah menerpa dada kecil itu! Aku terkesiap. Rupa-rupanya, darah itu dari ujung jemari mungilnya. Si mungil masih saja asyik memainkan jemarinya di ujung keris yang terulur. Kini ia menangis kencang. Lebih kencang dari yang tadi. Tangisan seribu belati yang menyayat hati.
Hadirin bergumam. Gumam yang campur-baur. Gumam itu terdengar disela-sela tetabuhan yang tak lagi riuh. Semua mata melotot kaget. Keris masih saja menderas. Ini harus dihentikan! Ini harus dicegah! Aku berteriak, tapi tak bisa berbuat apa-apa.
Anehnya, aku tak mendengar tangisan perempuan setengah baya. Bahkan ia tak lagi berdiri di sana. Hey, seberkas cahaya! Dari mana asalnya? Aku ikuti dengan mata. Orang-orang tak menyadarinya. Atau mungkin mereka tak diberi hak untuk melihat cahaya itu. Aku  terkejut ketika melihat sosok tinggi serba putih itu tengah komat-kamit dan mengangkat tangan. Di tangan kanannya tergantung seuntai tasbih. Ia memejamkan mata. Seluruh tubuhnya berselimut cahaya. O, rupanya wanita setengah baya dan lelaki itu ada di sampingnya. Mereka duduk bersimpuh.
Gumam itu berganti gemuruh. Teriakan histeris bersamaan dengan kilatan petir. Pemuka adat terpental bersamaan dengan kilat yang menyambar keris pusaka. samua mulut menganga. takjub luar biasa. kejadian seperti ini sungguh tak pernah terjadi. Bahkan tak pernah terlintas dalam pikiran mereka. Kini keris itu tergeletak tanpa pamor di sisi meja.
Sementara sang banyi telah damai di pelukan ibu. Mereka beranjak meninggalkan tempat itu menuju sebuah tempat rahasia, beberapa kilo meter dari tempat itu.