Jumat, 02 November 2012

EPOS bagian 3



Sukatain
P
asangan itu  baru selesai membangun sebuah gubuk untuk tempat tinggal mereka. Lalu bergegas menuju pondok Songopati yang tak jauh dari gubuk mereka. Sejak tadi pagi anak kesayangan mereka tinggal bersama Songopati.  Ada sorot kekhawatiran mendalam di mata kedua orang itu. Kuikuti saja tanpa ragu. Namun mereka sejenak agak ragu. Saling pandang sebelum menghimpun keberanian. Mereka bingung harus berucap apa untuk memanggil manusia yang luar biasa itu. Akhirnya cuma ketukan ragu dari tangan yang gemetar. Tak ada yang menyahut dari dalam, tapi pintu terbuka karena tekanan tangan yang mengetuk.
Iseng kuintip situasi di dalam. Sepasang mahluk itu tertegun tak jauh dari pintu masuk. Mereka saling pandang dalam diam, lalu perlahan menjatuhkan lutut masing-masing. Nyaris bersamaan. Ada apa? Kuikuti arah tatapan mereka. Songopati sedang melakukan sebuah ritual yang sama sekali belum pernah mereka saksikan. Ritual apa itu? Yang jelas ada hawa lain dalam ruangan itu. Suasana tenang, damai yang memukau. Waduh bagaimana menggamabarkannya? Lihat dua pasang suami istri itu tak perlu dikomando langsung bersimpuh takzim. Sesaat mereka lupa anak kesayangan mereka yang sempat terluka di tangan kanannya.
Kayaknya ritual itu akan segera berakhir. Songopati sedang bersimpuh di atas kelangsah[1]. Komat-kamit sebentar, lalu menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia mengusap majah dengan kedua tengannya. Sepertinya ia menyadari ada tamu, makanya ia segera menghentikan kegiatannya.
Ia menoleh kepada  tamunya. Air wajahnya begitu berseri. Ada kedamaian telaga bening di sana. Tanpa tesenyum saja wajah itu sudah nampak begitu bersahabat dan melindungi. Ia kini tersenyum. Tamunya serasa dibelai kasih seorang ayah yang baru menemukan anaknya yang hilang. Waduh, jadi kebingungan menggambarkan pemandangan di dalam ruangan gubuk sederhana yang serasa istana itu.
“Anakmu sedang pulas. Tadi kubuatkan ayunan dari bambu. Sepertinya ia menyukai tempat tidurnya itu.”
Si ibu tersentak. Kesadarannya kembali membumi, “Anakku..!” serunya lirih. Dia ingat anaknya dalam keadaan sakit. Demamkah ia? Apakah lukanya semakin parah? Ia tau dari informasi mulut ke mulut, tak ada mahluk hidup yang bisa selamat dari tuah keris pusaka itu. Keris yang mumpuni. Jangankan tertusuk dan mengeluarkan darah, tergores sedikit saja bisa mengakhiri hidup di bumi fana ini. “Ataukah anakku sudah tewas?” pikirnya lagi. “Apakah pulas kata lain dari mati? Ayunan dari bambu adalah keranda jenazah.” Mata si ibu yang tergenang air bah itu mengikuti tangan Songopati. Ibu itu menunduk lagi setelah melihat ayunan bambu itu. Sungguh tak tau kalimat apa yang pantas untuk diucapkan.
Ia terpental ke masa lalu. Pernah suatu ketika, beberapa tahun silam, Demung Rawit menjamu tamunya. Seorang lelaki dari selatan yang mencoba kehebatan pusaka sakti itu. Kala itu demung Rawit yang  masih muda dan gagah berani lengah dan tertusuk senjata lawan. Itu terasa benar olehnya. Namun tak disadari, amak demung muda itu berhasil menoreh tangan kanan lawan yang terulur. Hanya goresan kecil saja membuat senjata lawan terkulai dan jatuh. Hanya torehan kecil saja seorang pendekar dari selatan harus dibopong pulang oleh temannya yang sempat melambung karena merasa kemenangan rekannya nyaris teraih. Selang beberapa hari terdengar kabar kematian pendekar dari selatan itu.
“Lukanya sudah sembuh... Lihatlah sendiri...!”
Tersentak lagi pasangan suami istri itu. Kembali mereka terpental ke langit karena rasa suka cita yang melambung. Air mata mereka menyembul haru melihat buah hati sedang nyaman dalam ayunan di pojok ruangan. Si ibu meraba tangan buah hatinya. Tak ada perban, tak ada goresan. Bersih seperti tak pernah terjadi apa-apa. Mereka bangkit dan menghambur lalu bersujud seperti menyembah Songopati.
“Jangan! Tidak ada manusia menyembah manusia. Kita sama. Kita semua sama-sama hamba-Nya. Hanya Dia yang berhak disembah...” Ia mengangkat pundak lelaki itu.
“Dia...?”
“Dialah Allah, Tuhan segala mahluk.”
“Allah?” tanya lelaki yang masih berlinang air mata itu. Ia mengucapkan kata-kata itu dengan sangat kaku.
Lalu aku mendengar sebuah kalimat dalam bahasa yang sangat aneh. Kata Songopati, itu adalah firman Tuhan. Panjang lebar ia menjelaskan makna firman itu. Perlahan kedua pasangan itu mulai memahami  maksud tuan rumah.
“Tolong ajari kami... Kami ingin menjadi pengikutmu yang setia...” Kalimat itu meluncur begitu saja dari lelaki itu. Istrinya menguatkan dari sorot mata. Ia tak mampu berkata-kata.
“Ketahuilah, tak ada paksaan dalam Islam... Kalau kalian tetap dengan keyakinan lama, silakan. Kita tetap berteman. Kalau kalian mau mengikutiku, kita adalah saudara...”
Siapakah yang mampu berkata tidak ketika hatinya sudah takluk. Siapakah yang mampu menolak setelah melihat kebenaran begitu nyata di depan mereka. Siapakah yang mempu berpaling dari uluran tangan penuh kasih sayang. Aduhai, bawalah aku ke mana saja kau suka.... Tapi, jangan lepaskan.... Jangan lepaskan! Sungguh aku tak sanggup menapaki bumi penuh mistik ini sendiri. Kini kusadari betapa gelap hidup yang pernah kulewati, setelah kau bawakan cahaya terang-benderang. Temaram purnama tak ada apa-apanya. Garang sang surya menyembulkan peluh sungguh gelap adanya.
“Kalian harus berikrar!” kata Songopati mantap. Ia sudah membaca isi hati orang-orang di depannya.
“Tapi kami tidak punya apa-apa... Kami tak mungkin mengambil apa-apa dari rumah yang kami tinggalkan. Kami sekarang pelarian,” tatapan lelaki itu ragu. Ia membayangkan sesajen, andang-andang[2], binatang tumbal, dan segala yang memberatkan.
“Cukuplah kalian bawa hati kalian. Islam tak memberatkan  manusia.”
“Apa yang kami lakukan?”
“Cukup berikrar. Dalam bahasa Arab disebut syahadat. Ada dua ikrar yang kalian ucapkan. Yang pertama disebut syahadah tauhid, dan yang kedua disebut syahadah rasul. Kalau keduanya disebut syahadatain, atau dua kalimah sahadah.”
“Jadi, syaratnya adalah sukataen... Ah, susah sekali menyebutnya.”
“Sya - hadat”
“Sa – dat... sadat... tain... Sadatain
Lisan itu masih saja kaku, walau diulang berkali-kali. Ketika ia harus bercerita kepada orang lain.
 “Ikuti kata-kataku!
Demikianlah, dengan lidah yang kaku mereka berikrar, bersyahadat dan menjadi pemeluk Islam yang setia. Satu per satu masyarakat datang ke tempat itu. Berikrar dan bersyahadat. Akhirnya, tempat itu disebut desa Sahadatain. Karena pengaruh pelafalan, lama kelamaan kata itu bergeser menjadi Sukatain. Bandingkan dengan kata sekaten di Jogja.
ïïï


[1] basa Sasak – tikar yang terbuat dari anyaman kasar daun kelapa
[2] Uang atau sejenisnya sebagai penyerta sesajen yang diletakkan di atas tabak. Tabak (baca :taba’) piringan dari kayu yang untuk membawa andang-andang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar