Sukatain
P
|
asangan itu baru
selesai membangun sebuah gubuk untuk tempat tinggal mereka. Lalu bergegas
menuju pondok Songopati yang tak jauh dari gubuk mereka. Sejak tadi pagi anak
kesayangan mereka tinggal bersama Songopati.
Ada sorot kekhawatiran mendalam di mata kedua orang itu. Kuikuti saja
tanpa ragu. Namun mereka sejenak agak ragu. Saling pandang sebelum menghimpun
keberanian. Mereka bingung harus berucap apa untuk memanggil manusia yang luar
biasa itu. Akhirnya cuma ketukan ragu dari tangan yang gemetar. Tak ada yang
menyahut dari dalam, tapi pintu terbuka karena tekanan tangan yang mengetuk.
Iseng kuintip situasi di dalam. Sepasang mahluk itu tertegun
tak jauh dari pintu masuk. Mereka saling pandang dalam diam, lalu perlahan
menjatuhkan lutut masing-masing. Nyaris bersamaan. Ada apa? Kuikuti arah
tatapan mereka. Songopati sedang melakukan sebuah ritual yang sama sekali belum
pernah mereka saksikan. Ritual apa itu? Yang jelas ada hawa lain dalam ruangan
itu. Suasana tenang, damai yang memukau. Waduh bagaimana menggamabarkannya?
Lihat dua pasang suami istri itu tak perlu dikomando langsung bersimpuh takzim.
Sesaat mereka lupa anak kesayangan mereka yang sempat terluka di tangan
kanannya.
Kayaknya ritual itu akan segera berakhir. Songopati sedang
bersimpuh di atas kelangsah[1].
Komat-kamit sebentar, lalu menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia mengusap majah
dengan kedua tengannya. Sepertinya ia menyadari ada tamu, makanya ia segera
menghentikan kegiatannya.
Ia menoleh kepada
tamunya. Air wajahnya begitu berseri. Ada kedamaian telaga bening di
sana. Tanpa tesenyum saja wajah itu sudah nampak begitu bersahabat dan
melindungi. Ia kini tersenyum. Tamunya serasa dibelai kasih seorang ayah yang
baru menemukan anaknya yang hilang. Waduh, jadi kebingungan menggambarkan pemandangan
di dalam ruangan gubuk sederhana yang serasa istana itu.
“Anakmu sedang pulas. Tadi kubuatkan ayunan dari bambu.
Sepertinya ia menyukai tempat tidurnya itu.”
Si ibu tersentak. Kesadarannya kembali membumi, “Anakku..!”
serunya lirih. Dia ingat anaknya dalam keadaan sakit. Demamkah ia? Apakah
lukanya semakin parah? Ia tau dari informasi mulut ke mulut, tak ada mahluk
hidup yang bisa selamat dari tuah keris pusaka itu. Keris yang mumpuni.
Jangankan tertusuk dan mengeluarkan darah, tergores sedikit saja bisa mengakhiri
hidup di bumi fana ini. “Ataukah anakku sudah tewas?” pikirnya lagi. “Apakah
pulas kata lain dari mati? Ayunan dari bambu adalah keranda jenazah.” Mata si
ibu yang tergenang air bah itu mengikuti tangan Songopati. Ibu itu menunduk
lagi setelah melihat ayunan bambu itu. Sungguh tak tau kalimat apa yang pantas
untuk diucapkan.
Ia terpental ke masa lalu. Pernah suatu ketika, beberapa
tahun silam, Demung Rawit menjamu tamunya. Seorang lelaki dari selatan yang
mencoba kehebatan pusaka sakti itu. Kala itu demung Rawit yang masih muda dan gagah berani lengah dan
tertusuk senjata lawan. Itu terasa benar olehnya. Namun tak disadari, amak demung
muda itu berhasil menoreh tangan kanan lawan yang terulur. Hanya goresan kecil
saja membuat senjata lawan terkulai dan jatuh. Hanya torehan kecil saja seorang
pendekar dari selatan harus dibopong pulang oleh temannya yang sempat melambung
karena merasa kemenangan rekannya nyaris teraih. Selang beberapa hari terdengar
kabar kematian pendekar dari selatan itu.
“Lukanya sudah sembuh... Lihatlah sendiri...!”
Tersentak lagi pasangan suami istri itu. Kembali mereka
terpental ke langit karena rasa suka cita yang melambung. Air mata mereka
menyembul haru melihat buah hati sedang nyaman dalam ayunan di pojok ruangan.
Si ibu meraba tangan buah hatinya. Tak ada perban, tak ada goresan. Bersih
seperti tak pernah terjadi apa-apa. Mereka bangkit dan menghambur lalu bersujud
seperti menyembah Songopati.
“Jangan! Tidak ada manusia menyembah manusia. Kita sama. Kita
semua sama-sama hamba-Nya. Hanya Dia yang berhak disembah...” Ia mengangkat
pundak lelaki itu.
“Dia...?”
“Dialah Allah, Tuhan segala mahluk.”
“Allah?” tanya lelaki yang masih berlinang air mata itu. Ia
mengucapkan kata-kata itu dengan sangat kaku.
Lalu aku mendengar sebuah kalimat dalam bahasa yang sangat
aneh. Kata Songopati, itu adalah firman Tuhan. Panjang lebar ia menjelaskan
makna firman itu. Perlahan kedua pasangan itu mulai memahami maksud tuan rumah.
“Tolong ajari kami... Kami ingin menjadi pengikutmu yang
setia...” Kalimat itu meluncur begitu saja dari lelaki itu. Istrinya menguatkan
dari sorot mata. Ia tak mampu berkata-kata.
“Ketahuilah, tak ada paksaan dalam Islam... Kalau kalian
tetap dengan keyakinan lama, silakan. Kita tetap berteman. Kalau kalian mau
mengikutiku, kita adalah saudara...”
Siapakah yang mampu berkata tidak ketika hatinya sudah
takluk. Siapakah yang mampu menolak setelah melihat kebenaran begitu nyata di
depan mereka. Siapakah yang mempu berpaling dari uluran tangan penuh kasih
sayang. Aduhai, bawalah aku ke mana saja kau suka.... Tapi, jangan lepaskan....
Jangan lepaskan! Sungguh aku tak sanggup menapaki bumi penuh mistik ini
sendiri. Kini kusadari betapa gelap hidup yang pernah kulewati, setelah kau
bawakan cahaya terang-benderang. Temaram purnama tak ada apa-apanya. Garang
sang surya menyembulkan peluh sungguh gelap adanya.
“Kalian harus berikrar!” kata Songopati mantap. Ia sudah
membaca isi hati orang-orang di depannya.
“Tapi kami tidak punya apa-apa... Kami tak mungkin mengambil
apa-apa dari rumah yang kami tinggalkan. Kami sekarang pelarian,” tatapan
lelaki itu ragu. Ia membayangkan sesajen, andang-andang[2],
binatang tumbal, dan segala yang memberatkan.
“Cukuplah kalian bawa hati kalian. Islam tak memberatkan manusia.”
“Apa yang kami lakukan?”
“Cukup berikrar. Dalam bahasa Arab disebut syahadat. Ada dua
ikrar yang kalian ucapkan. Yang pertama disebut syahadah tauhid, dan yang kedua disebut syahadah rasul. Kalau keduanya disebut syahadatain, atau dua kalimah sahadah.”
“Jadi, syaratnya adalah sukataen... Ah, susah sekali
menyebutnya.”
“Sya - hadat”
“Sa – dat... sadat... tain... Sadatain
Lisan itu masih saja kaku, walau diulang berkali-kali. Ketika
ia harus bercerita kepada orang lain.
“Ikuti kata-kataku!
Demikianlah, dengan lidah yang kaku mereka berikrar,
bersyahadat dan menjadi pemeluk Islam yang setia. Satu per satu masyarakat
datang ke tempat itu. Berikrar dan bersyahadat. Akhirnya, tempat itu disebut
desa Sahadatain. Karena pengaruh pelafalan, lama kelamaan kata itu bergeser
menjadi Sukatain. Bandingkan dengan kata sekaten
di Jogja.
ïïï
Tidak ada komentar:
Posting Komentar