Senin, 19 November 2012

Episode TELAGA BENING

-->
Sang Pengembara
            Ia menyelusup di antara penonton. Badan tinggi besarnya agak menyulitkannya menyelip di celah penonton yang padat. Akhirnya ia berhasil juga walau dengan susah payah menempati posisi yang paling nyaman menikmati sajian  terindah yang telah membuatnya sangat penasaran. Jiwa petualangnya selalu terpancing untuk menggapai apa yang membuatnya penasaran.
Ia memang seorang pengembara. Seorang nomad sejati. Ia digerakkan oleh rasa penasaran terhadap sesuatu. Seperti sekarang ini. Ia harus menghimpun kekuatan, mengirit seirit mungkin untuk dapat menginap di sebuah hotel bintang lima di kawasana Senggigi. Hanya semalam. Ia harus pandai mengatur strategi agar satu  malamnya tak sia-sia. Ia harus lihai melihat schedule pagelaran seni  di pelataran Hotel Seraton.
Ini bukan perkara mudah. Ia bukan seorang konglomerat yang bisa seenakknya masuk ke hotel. Modalnya hanya semangat pantang menyerah. Buktinya, kini ia telah duduk di barisan terdepan. Sedang melongo, dengan mata tak berkedip  melihat setiap detail gerakan sang pujaan. Bagaimana mungkin sang  penari menjadi pujaan? Ia sama sekali belum pernah bertemu. Mungkin rasa penasaran yang terbangun dari desas-desus itu yang membangun rasa penasaran dan menumbuhkan kekaguman.
Kelambu tersingkap. Dua penari berputar-putar. Detik berikutnya, sepasang penari muncul dari balik kelambu. Mereka adalah sekawanan burung gagak yang tengah mandi dengan suka cita. Mereka mengepak-ngepakkan sayap hitamnya. Mereka menenggelamkan kepala, lalu menyembul lagi dengan ritmisnya. Mereka mengangguk-angguk, lalu berputar-putar. Itulah tarian Gagak Mandik[1] sebagai pembuka pentas seni.
Kini giliran sang Dewi. Ia kini menarikan Gandrung Bapangan[2]. Wow, indah nian gerkan itu.
Tarian itu telah selesai. Riuh aplaus dan gemuruh teriakan perlahan meredup. Para penabuh baru saja akan berbenah, ketika  Jinada[3] mengalunkan intronya yang lembut dari sebuah suling belo[4].  Lampu panggung bergeser mencari sumber suara. Seorang pemuda berambut ikal tengah asyik bersandar pada sebuah tiang sisi kanan panggung utama. Lampu hanya menerangi peniup suling misterius itu. Semua penabuh terpukau. Sebuah kemampuan luar biasa.
Mereka terlena, sampai lupa. Seharusnya detik ke-23 mereka sudah masuk. Terpaksa mereka harus menunggu 23 detik berikutnya. Suling tunggal masih mendayu sendu. Detik ke-23 berikutnya pun tiba, kelenang[5] masuk dengan manis, detik ke-26 gendang menimpali dengan apik. Lalu gong bergema pada detik ke-30, lalu terompong meningkahi meningkatkan gairah. Lengkaplah sudah keindahan malam itu. Semua telah mengambil bagiannya dengan sempurna. Suling belo tak mau kalah, ia kembali mendominasi pada detik ke-36. Suaranya melengking. Jinada memeluk penonton.
Karinti terkesima. Bersimpuh. Naluri seninya merambat pelan pada bawah sadarnya. Mengalir merambati nadi, pelan mengikuti alunan Jinada yang makin memagut. Pertama-tama posisi duduknya berubah artistik. Lalu, ujung jemarinya bergerak lembut. Lalu wajahnya terangkat pelan. Lalu, tangannya terangkat gemulai. Semua dalam pagutan jinada.
Kembali sang penari manari, berputar di pentas, mengimbangi tetabuhan berkelas. Ia sesekali melirik ke peniup suling. Lirikan berikutnya, sang peniup suling  telah menabuh kelenang dengan cekatan. Karinti semakin kerasukan. Lirikan berikutnya sang penabuh kelenang telah memeluk sebuah gendang. Tetabuhan menjadi semakin berjiwa. Ia bangkit, berputar mengelilingi sang dewi sambil menabuh gendang dengan cekatan. Lalu, gendang ia lepaskan demi sang dewi. Ia menari dengan lihai.
Pasangan serasi. Mereka kini adalah sepasang angsa yang bercengkerama di tengah sebuah danau bening. Lalu membumbung di udara menjelma camar. Detik berikutnya mereka mengangguk-angkuk, menggeleng-geleng, melenggok-lenggok. Wow, sebuah tarian berpasangan yang inprofisasif. Gerakan-gerakan mereka telah terlepas dari kendali pikir. Inilah tarian naluri. Tarian hati. Indah tak terlukis di kanvas sang pelukis.
Akan tetapi, itu tak berlangsung lama. Pada putaran berikutnya, Karinti lebih terpana. Suara suling kini kembali mendayu. Suling belo sedang ditiup dengan begitu lihai. Kini yang terdengar hanya suling belo. Suara khasnya sangat memukau menutup jinada dengan elegan pada menit ke-5,05. Semua terkesima, lalu menjadi penonton dengan seribu pujian yang tak mampu tertuang kata-kata. Karinti terduduk bersimpuh lagi dengan manis, menatap dengan penuh tatapan.
Gemuruh aplaus kembali terdengar. Lebih gemuruh dari sebelumnya. Lalu sunyi. Mereka berbenah untuk kembali ke Lenek malam itu juga.  Besok mereka harus tampil lagi sebagai duta seni.  Seni kala itu memang sebagai anak emas pariwisata di NTB. Beberapa brosur dibuat oleh dinas pariwisata. Foto Karinti selalu ditempatkan di halaman sampul.
C∞∞C
Karinti belum beranjak dari duduk setelah shalat Isya. Beberapa jam lamanya ia duduk seperti itu. Ia tak sedang tafakkur. Ia sedang membayangkan seseorang. Seorang penabuh serba bisa yang misterius. Karinti tak sempat bilang apa-apa, karena pemuda itu  lenyap begitu saja di antara para pengunjung yang sebagian besar para touris asing.
Malam ini malam ketiga kejadian seperti ini berulang. Tiga hari lamanya wajah itu tak pernah hilang dari benak Karin.  Ia kini tak lagi bersemangat. Dalam keadaan seperti inilah ia lebih sering melakukan ibadah shalat lima waktu. Ibadah yang sering ia tinggalkan begitu saja bila ia sedang akan menari. Ya, tiga hari ini Karinti shalat dan berdoa. Namun sebenarnya sia-sia saja, karena ia sama sekali tak ingat Tuhan dalam shalat. Seluruh gerak tubuhnya selalu menggambar siluet wajah sang penabuh hati itu. Sang penabuh yang menabuh dengan hati, dan kini sedang menabuh hati Karinti.
Inilah kali pertama Sang Dewi Tari memikirkan sesuatu selain tari. Rupanya ia dijangkiti sindrom cinta pertama di awal perjumpaan.  Pesona yang tertebar rupaya hanya untuknya.  Siapa ya yang mampu membantu sang dewi dalam kodisi seperti ini? Lalu bagaimana orang bisa membantunya kalau sama sekali ia tak punya data sedikitpun tentang penabuh misterius itu? Kalaupun ia tau, lalu apa ia punya keberanian untuk mengungkapkan rasa pada seorang yang belum ia kenal? Waduh, pertanyaan-pertanyaan itu berseliweran di benak Karinti.  Ia sama sekali tak mampu menjawabnya.
Petikan senar gitar sayup-sayup menerpa telinga. Ia menoleh ke jendela yang tertutup. Lalu suara lirih hinggap juga menerpa telinganya yang peka. Peka terhadap keindahan. Ia melayang. Lirik lagu itu sepertinya ditujukan untuknya seorang. Jantungnya berdetak agak acak. Dengan debaran itu ia bengkit menyibak korden merah hati yang membatasi ruang tamu dengan teras luar.
“Eh, jangan ngamen di sini! Ganggu orang tidur...!”
Teriakan dari seberang itu membuyarkan  harapan Karinti. Sepi lagi. Karinti jadi kesepian.
Di teras depan udara malam mengusir gerah. Tembok dari batu yang tersusun itu membatasi pandangannya. Daun bunga panca warna sedikit bergoyang karena angin.
C∞∞C
Sang Pengembara kelihatannya lagi dimabuk asmara. Bukan cinta pertama tentu saja. Itu tak masalah. Apa bedanya? Sama saja. Sama-sama jatuh cinta. Bahkan, ia merasa inilah cinta! Cinta sebenarnya cinta. Kalau yang dulu-dulu itu kayaknya bukan. Paling tidak itu yang dirasakan oleh Sang Nomad. Jelas sekali suara hati itu terdengar lirih via puisi yang bergentayangan dalam benaknya. Ia menjelma jadi pujangga.
Lihatlah malaikatku, wanita yang duduk di istana hatiku ini
tanyakan kepada penghuni langit tentang dia
kupastikan mereka akan cemburu

Gerak tubuh itu masih menari-nari di  pelupuk mata. Senyuman itu melintas. Tatapan mata, dan semua yang ia lihat malam itu adalah keindahan yang sengaja dikemas untuk dirinya. Lalu larik puisi kembali bergentayangan di benak sang pujangga. Sang pengembara yang pujangga.
Tarian seindah apapun tak mampu
menyamai gerak tubuhnya
Senyum seribu bidadari rasanya
Hanya sunggingan kecil di bibirnya
Ia lebih indah dari keindahan
Ia lebih lembut dari kelembutan
Ia lebih anggun dari keanggunan
Oh malaikatku...
Sentuhlah dia, jika kau mampu[6]

Ia tak pernah separah  ini. Sebelumnya, perempuan tak ada artinya. Ia bisa saja menyatakan cinta kepada siapa saja. Ia bisa meninggalkannya kapan saja. Ya, ia memang sang nomad, sang Nomad cinta. Begitu cepat ia jatuh cinta. Menggebu-gebu pada bulan pertama. Biasa saja pada bulan kedua. Lalu, meredup pada bulan ketiga, dan akhirnya padam begitu ada dermaga baru yang bikin penasaran. Apakah itu masih berlaku kini di hadapan sang dewi?
Yang ia bingungkan, mengapa malam pentas seni di Seraton menjadi sia-sia? Tenaga apa yang menggeret langkahnya berbaur dengan para penonton, berlalu tanpa menoleh sedikit pun ke belakang? Padahal ia tau benar sang penari begitu terpukau oleh bakat alamnya. Tidakkah itu sebuah kesempatan emas yang terlepas dan sulit sekali untuk ditemukan kembali. Malam itu, setelah pentas usai, seperti keberanian yang muncul tiba-tiba melangkah ke pentas, begitu juga ketidakberanian tiba-tiba menyergap. “Paling tidak, aku punya satu langkah maju,” desahnya pada diri sendiri.
Satu langkah maju mendekati hati. Sepintas ia merasa tatapan itu begitu jelas berkata-kata. Namun, kesimpulan agaknya terlalu dini untuk ditarik. Masih banyak kemungkinan-kemungkinan. Ragu-ragu. Baru sekali ini ia takut mengayun langkah. Makanya, langkahnya belum tercipta setelah ia tau di mana seharusnya ia bisa menemui sang pujaan. Keraguan itu terus menahan langkahnya untuk mengetuk pintu, sampai pada akhirnya sebuah ketukan santun bertalu di pintu rumahnya. Siapa yang datang?
“Maaf, kami dari Bebadosan. Kami ingin Anda bergabung dengan grup kami,” seorang dari mereka membuka percakapan setelah beberapa menit sepi.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Ia tersentak. Bukankah ini saat-saat yang paling indah. Ia tau benar sang dewi adalah penari dari Sanggar Tari Bebadosan. Akhirnya apa yang ia bayangkan akan menjadi kenyataan. Ia akan punya waktu sangat banyak mendekat dan menuangkan cinta dalam wadah yang terbuka.
“Bagaimana?”
Seandainya orang-orang di depannya tau, bagaimana perasaan Sang Pengembara, mereka tak kan bertanya seperti itu kepadanya.
Belakangan ia tau kalau orang yang menjemputnya malam ini adalah pendiri sanggar seni, sekaligus kakak kandung Karinti yang baru pulang dari sekolah tari di Pulau Dewata dan di Jogja. Namanya Wirangga. Dialah yang mengentas Karinti dari istana peninggalan sang ayah. Dialah yang mempertemukan dua orang yang menyimpan debur ombak yang sama.
“Hai...!” Hanya itu, lalu tenggorokan itu kering. Debar acak itu lebih dominan. Lalu, hanya mata dengan mata. Debar itu jadi semakin acak ketika sebuah senyum terlukis di bibir sang dewi. Aristo melayang tak menyentuh tanah ketika tatapan itu beradu. Ia seperti terkena sihir. Tatapan itu memancarkan sesuatu yang tak tergambarkan.
Ini pertemuan pertama mereka setelah pentas di Seraton. Pertemuan pertama, sekaligus terakhir, karena besok sang dewi harus berangkat ke Jakarta sebagai duta kesenian NTB. Kalau ia bernasib baik, ia akan terpilih sebagai duta Indonesia dalam lawatan budaya ke berbagai negara Eropa.
Sang Pengembara mengembara lagi. Kini ia burung yang terlepas dari jerat, dan terpisah dari kawanan. Terbanglah ia sesuka kati. Karena suatu proses yang panjang, akhirnya ia hinggap di pucuk menara masjid. Di sana ia bertemu dengan Umar Yusuf, pamannya, perantara hidayah itu.



[1] Tari kreasi baru karya A.Raya, Lenek
[2] tari klasik Sasak, tari tunggal
[3] Irama, gending khas yang didominasi soling belo
[4] Suling panjang, ditiup sambil  duduk berselonjor dengan posisi badan condong ke belakang
[5] kolintang, alat musik pukul tradisonal dengan bilah kayu, bambu, atau besi  yang dipasang berjejer.
[6] Puisi romantis karya Agus Firman

Jumat, 02 November 2012

EPOS bagian 3



Sukatain
P
asangan itu  baru selesai membangun sebuah gubuk untuk tempat tinggal mereka. Lalu bergegas menuju pondok Songopati yang tak jauh dari gubuk mereka. Sejak tadi pagi anak kesayangan mereka tinggal bersama Songopati.  Ada sorot kekhawatiran mendalam di mata kedua orang itu. Kuikuti saja tanpa ragu. Namun mereka sejenak agak ragu. Saling pandang sebelum menghimpun keberanian. Mereka bingung harus berucap apa untuk memanggil manusia yang luar biasa itu. Akhirnya cuma ketukan ragu dari tangan yang gemetar. Tak ada yang menyahut dari dalam, tapi pintu terbuka karena tekanan tangan yang mengetuk.
Iseng kuintip situasi di dalam. Sepasang mahluk itu tertegun tak jauh dari pintu masuk. Mereka saling pandang dalam diam, lalu perlahan menjatuhkan lutut masing-masing. Nyaris bersamaan. Ada apa? Kuikuti arah tatapan mereka. Songopati sedang melakukan sebuah ritual yang sama sekali belum pernah mereka saksikan. Ritual apa itu? Yang jelas ada hawa lain dalam ruangan itu. Suasana tenang, damai yang memukau. Waduh bagaimana menggamabarkannya? Lihat dua pasang suami istri itu tak perlu dikomando langsung bersimpuh takzim. Sesaat mereka lupa anak kesayangan mereka yang sempat terluka di tangan kanannya.
Kayaknya ritual itu akan segera berakhir. Songopati sedang bersimpuh di atas kelangsah[1]. Komat-kamit sebentar, lalu menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia mengusap majah dengan kedua tengannya. Sepertinya ia menyadari ada tamu, makanya ia segera menghentikan kegiatannya.
Ia menoleh kepada  tamunya. Air wajahnya begitu berseri. Ada kedamaian telaga bening di sana. Tanpa tesenyum saja wajah itu sudah nampak begitu bersahabat dan melindungi. Ia kini tersenyum. Tamunya serasa dibelai kasih seorang ayah yang baru menemukan anaknya yang hilang. Waduh, jadi kebingungan menggambarkan pemandangan di dalam ruangan gubuk sederhana yang serasa istana itu.
“Anakmu sedang pulas. Tadi kubuatkan ayunan dari bambu. Sepertinya ia menyukai tempat tidurnya itu.”
Si ibu tersentak. Kesadarannya kembali membumi, “Anakku..!” serunya lirih. Dia ingat anaknya dalam keadaan sakit. Demamkah ia? Apakah lukanya semakin parah? Ia tau dari informasi mulut ke mulut, tak ada mahluk hidup yang bisa selamat dari tuah keris pusaka itu. Keris yang mumpuni. Jangankan tertusuk dan mengeluarkan darah, tergores sedikit saja bisa mengakhiri hidup di bumi fana ini. “Ataukah anakku sudah tewas?” pikirnya lagi. “Apakah pulas kata lain dari mati? Ayunan dari bambu adalah keranda jenazah.” Mata si ibu yang tergenang air bah itu mengikuti tangan Songopati. Ibu itu menunduk lagi setelah melihat ayunan bambu itu. Sungguh tak tau kalimat apa yang pantas untuk diucapkan.
Ia terpental ke masa lalu. Pernah suatu ketika, beberapa tahun silam, Demung Rawit menjamu tamunya. Seorang lelaki dari selatan yang mencoba kehebatan pusaka sakti itu. Kala itu demung Rawit yang  masih muda dan gagah berani lengah dan tertusuk senjata lawan. Itu terasa benar olehnya. Namun tak disadari, amak demung muda itu berhasil menoreh tangan kanan lawan yang terulur. Hanya goresan kecil saja membuat senjata lawan terkulai dan jatuh. Hanya torehan kecil saja seorang pendekar dari selatan harus dibopong pulang oleh temannya yang sempat melambung karena merasa kemenangan rekannya nyaris teraih. Selang beberapa hari terdengar kabar kematian pendekar dari selatan itu.
“Lukanya sudah sembuh... Lihatlah sendiri...!”
Tersentak lagi pasangan suami istri itu. Kembali mereka terpental ke langit karena rasa suka cita yang melambung. Air mata mereka menyembul haru melihat buah hati sedang nyaman dalam ayunan di pojok ruangan. Si ibu meraba tangan buah hatinya. Tak ada perban, tak ada goresan. Bersih seperti tak pernah terjadi apa-apa. Mereka bangkit dan menghambur lalu bersujud seperti menyembah Songopati.
“Jangan! Tidak ada manusia menyembah manusia. Kita sama. Kita semua sama-sama hamba-Nya. Hanya Dia yang berhak disembah...” Ia mengangkat pundak lelaki itu.
“Dia...?”
“Dialah Allah, Tuhan segala mahluk.”
“Allah?” tanya lelaki yang masih berlinang air mata itu. Ia mengucapkan kata-kata itu dengan sangat kaku.
Lalu aku mendengar sebuah kalimat dalam bahasa yang sangat aneh. Kata Songopati, itu adalah firman Tuhan. Panjang lebar ia menjelaskan makna firman itu. Perlahan kedua pasangan itu mulai memahami  maksud tuan rumah.
“Tolong ajari kami... Kami ingin menjadi pengikutmu yang setia...” Kalimat itu meluncur begitu saja dari lelaki itu. Istrinya menguatkan dari sorot mata. Ia tak mampu berkata-kata.
“Ketahuilah, tak ada paksaan dalam Islam... Kalau kalian tetap dengan keyakinan lama, silakan. Kita tetap berteman. Kalau kalian mau mengikutiku, kita adalah saudara...”
Siapakah yang mampu berkata tidak ketika hatinya sudah takluk. Siapakah yang mampu menolak setelah melihat kebenaran begitu nyata di depan mereka. Siapakah yang mempu berpaling dari uluran tangan penuh kasih sayang. Aduhai, bawalah aku ke mana saja kau suka.... Tapi, jangan lepaskan.... Jangan lepaskan! Sungguh aku tak sanggup menapaki bumi penuh mistik ini sendiri. Kini kusadari betapa gelap hidup yang pernah kulewati, setelah kau bawakan cahaya terang-benderang. Temaram purnama tak ada apa-apanya. Garang sang surya menyembulkan peluh sungguh gelap adanya.
“Kalian harus berikrar!” kata Songopati mantap. Ia sudah membaca isi hati orang-orang di depannya.
“Tapi kami tidak punya apa-apa... Kami tak mungkin mengambil apa-apa dari rumah yang kami tinggalkan. Kami sekarang pelarian,” tatapan lelaki itu ragu. Ia membayangkan sesajen, andang-andang[2], binatang tumbal, dan segala yang memberatkan.
“Cukuplah kalian bawa hati kalian. Islam tak memberatkan  manusia.”
“Apa yang kami lakukan?”
“Cukup berikrar. Dalam bahasa Arab disebut syahadat. Ada dua ikrar yang kalian ucapkan. Yang pertama disebut syahadah tauhid, dan yang kedua disebut syahadah rasul. Kalau keduanya disebut syahadatain, atau dua kalimah sahadah.”
“Jadi, syaratnya adalah sukataen... Ah, susah sekali menyebutnya.”
“Sya - hadat”
“Sa – dat... sadat... tain... Sadatain
Lisan itu masih saja kaku, walau diulang berkali-kali. Ketika ia harus bercerita kepada orang lain.
 “Ikuti kata-kataku!
Demikianlah, dengan lidah yang kaku mereka berikrar, bersyahadat dan menjadi pemeluk Islam yang setia. Satu per satu masyarakat datang ke tempat itu. Berikrar dan bersyahadat. Akhirnya, tempat itu disebut desa Sahadatain. Karena pengaruh pelafalan, lama kelamaan kata itu bergeser menjadi Sukatain. Bandingkan dengan kata sekaten di Jogja.
ïïï


[1] basa Sasak – tikar yang terbuat dari anyaman kasar daun kelapa
[2] Uang atau sejenisnya sebagai penyerta sesajen yang diletakkan di atas tabak. Tabak (baca :taba’) piringan dari kayu yang untuk membawa andang-andang.

Wawasan

SEJARAH MODERN IRAK
by: harja saputra (2004)
A. Letak Geografis
Irak terletak di Asia bagian barat daya. Sebelah utara berbatasan dengan Turki, sebelah timur berbatasan dengan Iran, sebelah barat berbatasan dengan Syria dan Jordan, dan sebelah selatan berbatasan dengan Saudi Arabia dan Kuwait. Total wilayah Irak adalah 167,975 mil (435,052 kilometer), tidak termasuk zone yang netral yang telah diatur bersama-sama dengan Saudi Arabia sejak 1922. Irak memperoleh kemerdekaan dari Inggris pada tahun 1932.

Iraq adalah salah satu negara dunia yang menjadi produsen minyak. Pendapatan minyak dekade terbaru telah digunakan untuk program pengembangan negara dan untuk membangun angkatan bersenjata yang paling kuat di dunia Arab. Kekuatannya itu dipertunjukkan sewaktu perang antara Iran-Iraq (1980–1988) dan invasi Kuwait (1990).[1]
B. Komposisi Kesukuan dan Kebudayaan Irak
Orang-orang Irak Semit masa lampau, Babylonians dan Assyrians, dan yang non-Semitic Sumerians dulu berasimilasi oleh gelombang imigran yang masuk ke Irak. Penaklukan Arab pada abad ke-7 telah menjadikan adanya Arabisasi di pusat dan selatan Irak. Populasi Irak adalah campuran suku Kurdi dan Arab. Lebih dari 3/4 orang-orang Irak adalah suku Arab, sekitar 1/5 adalah suku Kurdi, dan lainnya terdiri dari kelompok minoritas suku lain.Suku Kurdi tergolong sebagai kelompok ethnolinguistic paling besar keempat di timur tengah, walaupun perkiraan populasi bertukar-tukar. Ada suku Kurdi minoritas penting di Irak, Kalkun, Syria, dan Iran. Di Irak sendiri, suku Kurdi memiliki kelompok budaya yang berbeda dan terpisah. Mereka kebanyakan orang Islam dengan menganut mazhab Sunni dan menggunakan bahasa Farsi. Mereka mempunyai struktur kebudayaan yang kuat dan khas, khususnya dalam bidang musik dan tarian. Kebudayaan Irak adalah campuran dari kebudayaan Arab dan kebudaayan Islam secara umum. Terdapat banyak tradisi dan kebiasaan yang sama dengan dunia Arab secara keseluruhan.
Di Iraq, terdapat juga keaneka ragaman budaya. Ada suku pengembara di bagian barat dan selatan Irak yang memiliki daerah kering; penduduk petani di Iraq pusat; penduduk sungai di Irak selatan; penduduk industri di Irak timur laut; penduduk pegunungan di Kurdistan. Semua itu menghasilkan suatu mosaik kultur regional yang melahirkan perbedaan budaya rakyat, baik dari aspek makanan, pakaian, dan arsitektur domestik.Pertumbuhan Irak yang cepat telah mempercepat proses perubahan sosial di Irak. Hubungan sosial yang tradisional hanya terlihat di daerah pedesaan. Alkohol dan gaya hidup Barat (Western Style) banyak dijumpai di kota-kota besar Irak, suatu keadaan yang banyak disayangkan oleh orang Islam fundamentalists. Peran wanita juga mengalami pergeseran, yang awalnya hanya pasif di rumah-rumah namun kemudian mereka aktif di berbagai sector kehidupan masyarakat.

Ada sejumlah museum dan Perpustakaan Nasional di Baghdad. Kota besar itu juga mempunyai beberapa bangunan bagus dari jaman yang sangat makmur, yaitu peninggalan Bani Abbasiyah pada abad ke-8. Sejumlah situs arkeologi terkenal banyak dijumpai di Iraq yang berisi artefak-artefak kuno, seperti di Mosul
Museum dan Iraq Musium di Baghdad. Jutaan wisatawan mengunjungi Iraq setiap tahunnya, juga banyak di antara para penganut Syi’ah mengunjungi tempat suci Karbala’ dan Najaf yang juga terletak di Irak, sebagai bagian dari sejarah Syi’ah.
[2]

C. Pemerintahan dan Sistem Politik Irak

Iraq mengalami beberapa ketidakstabilan politis terutama pada saat bentuk pemerintahannya masih dalam bentuk kerajaan (monarchy) pada tahun 1958. Suku Kurdi, sebagai bagian dari rakyat Irak minoritas, sering mendapat perlakuan diskriminasi. Pada tahun 1970, Irak resmi menjadi sebuah negara republik, dengan kekuasaan perundang-undangan yang secara teoritis memberi hak pada suatu badan pembuat undang-undang (legislatif), eksekutif yang menggerakkan negara dengan adanya presiden, dan para menteri, dan kekuasaan kehakiman di dalam suatu pengadilan mandiri.
Oleh karena Irak mengalami revolusi politik, bagaimanapun, sistem politik beroperasi dengan mengacu kepada pemerintahan konstitutional. Lalu didirikanlah suatu badan yang dinamakan Revolutionary Command Council (RCC), yang semua anggotanya diduduki oleh anggota Partai Ba’th, sebuah partai besar Irak. Kebanyakan anggota RCC adalah militer. RCC memilih ketuanya, yang juga presiden dan pemimpin angkatan bersenjata. Presiden dan Dewan Menteri mempertanggungjawabkan kepada RCC.Setelah Partai Ba’th mendapatkan kekuasaan penuh pada Juli 1968, peta politik Iraq pada hakekatnya berstatus one-party, yang secara nominal semua pengaturan institusi dipengaruhi oleh Partai Ba’th, ideologi Arab sosialisme dan Nasionalisme serta dengan berdasarkan pada doktrin Islam doktrin.
Pada tahun 1973, Iraqi Comunist Party (ICP) setuju untuk bergabung dengan Partai Ba’th, dan pada tahun 1974 kelompok partai politik Kurdi, di antaranya partai Kurdish Democratic Party (KDP) bergabung juga dengan Partai Ba’th. Namun pada tahun 1979, terjadi perselisihan paham serius mengenai kepemimpinan Partai Ba’th, ICP memutuskan untuk tidak lagi bergabung dengan Ba’th dan menjadi pihak oposisi.Tidak ada pemilihan (election) yang diselenggarakan di Irak dari tahun 1958 sampai 1980. Baru pada tahun 1989, dibentuk suatu panitia yang membahas bentuk draft konstitusi baru, yang lebih demokratis dan juga mengijinkan pembentukan partai politik baru.

Iraq dibagi menjadi 18 propinsi (muhafazat), 3 di antaranya adalah daerah otonomi Kurdish. Masing-masing propinsi dipimpin oleh seorang gubernur (muhafiz), yang ditugaskan oleh menteri untuk mengembangkan pembangunan di daerah tersebut.
Propinsi dibagi lagi menjadi 91 distrik (qadawat), yang dipimpin oleh pemimpin distrik (kabupaten). Distrik pun dibagi lagi menjadi daerah-daerah kecil (nahiyat/kecamatan) yang dipimpin oleh pemimpin daerah. Terdapat 141 nahiyat (kecamatan) di Iraq. Sempat terjadi konflik antar para pemimpin politis Irak terutama pasca awal kemerdekaan Irak. Raja Faysal menjalin kerjasama dengan para pemimpin oposisi setelah kemerdekaan.
Tidak lama sesudah Irak merdeka, Jenderal Nuri yang tadinya menjabat perdana menteri sejak 1930, berhenti dari jabatannya. Namun, kemudian Raja Faysal mengundang Rashid Ali al-Gaylani, salah satu dari para pemimpin oposisi, untuk membentuk suatu pemerintah baru. Pada masa yang singkat pasca kemerdekaan Irak ini, nampak bahwa semua tokoh dan pemimpin negeri berusaha untuk melakukan perubahan internal. Namun kemudian, perselisihan internal segera mencuat. peristiwa peristiwa pertama adalah pemberontakan Assyrian pada tahun 1933. Assyrians, yakni kelompok masyarakat minoritas Kristen Irak. Assyrians mulai merasakan tidak kuat dan menuntut perubahan baru. Lalu di musim panas tahun 1933, ketika Raja Faysal di Eropa, kelompok oposisi ini, ingin mengumandangkan reformasi dengan mengajukan tuntutan agar pemimpin Irak berpihak pula kepada kelompok minoritas.
Terjadi keributan di Irak, ketika beberapa anggota Assyrians dengan brutal dibunuh. Peristiwa ini kemudian dibawa untuk mendapat perhatian dari PBB. Ketika ia kembali ke Baghdad, ia menemukan situasi yang di luar kendalinya, yaitu ia terserang gangguan hati/jantung, lalu ia kembali ke Switzerland, di mana ia meninggal pada bulan September 1933. Sebuah peristiwa Assyrian menyempurnakan kejatuhan Rashid ‘ Ali dan penggantiannya oleh suatu pemerintahan yang moderat.Faysal digantikan oleh putranya, King Ghazi (1912–1939), yang masih muda dan kurang berpengalaman. Hal itu memberikan angin bagi para pemimpin politis sebagai kesempatan untuk bersaing untuk berkuasa. Kekacauan pun muncul sehingga banyak kalangan yang meminta King Ghazi untuk mengundurkan diri.
Setelah Ghazi berhenti, perdana menteri Irak digantikan oleh Hikmat Sulayman pada bulan Oktober 1936 dengan didampingi oleh Bakr Sidqi sebagai panglima militer. Keadaan politik pada masa Hikmat Sulayman terus memanas, hal itu terbukti dengan terbunuhnya Bakr Sidqi oleh kelompok yang menginginkan peralihan kekuasaan militer.
Di pihak lain, meskipun terdapat ketidakstabilan politis, dari segi pembangunan ekonomi Irak mengalami kemajuan yang cepat. Proyek irigasi Kut al-’Amarah dirancang dan selesai pada tahun 1934. Saluran dari ladang minyak Kirkuk ke Mediterania dibuka pada tahun 1935. Stasiun kereta api, yang menghubungkan antara Teluk Persia, diselesaikan pada tahun 1938. Ada juga suatu peningkatan nyata dalam bidang konstruksi, perdagangan luar negeri, dan fasilitas bidang pendidikan.[3]
D. Ekonomi
Minyak adalah mineral sangat berharga bagi Irak. Negeri ini mempunyai ladang minyak paling besar kedua dunia setelah Saudi Arabia. Irak menduduki eksportir minyak paling besar kedua dunia pada tahun 1980, sebelum peperangan dengan Iran.
Sebagai anggota organisasi minyak OPEC, Irak berkewajiban mematuhi kuota produksi yang telah disepakati. Ladang minyak pertama yang ditemukan di Irak pada tahun 1927 adalah di daerah Kirkuk oleh perusahaan minyak asing Turkish of Petroleum Company (yang berganti nama menjadi Irak of Petroleum Company pada tahun 1929). Penemuan selanjutnya adalah di daerah Mosul dan Basra, dan di beberapa daerah lain pada tahun 1940-1950. Irak of Petroleum Company kemudian dinasionalisasi pada tahun 1972, dan pada tahun 1975 semua perusahaan minyak asing telah dinasionalisasikan. Di wilayah utara Irak, khususnya Kirkuk, Jambur, dan Bay Hasan merupakan ladang minyak utama Irak. Di wilayah selatan, yang meliputi Rumaylah Utara, Zubayr, Rumaylah, dan Nahr ‘Umar, mempunyai cadangan yang paling besar. Rumaylah merupakan kawasan yang menjadi perselisihan dengan Kuwait pada tahun 1990.
Di kota Mosul terdapat juga cadangan minyak meskipun bernilai lebih rendah dan lebih kecil. Daerah baru yang sedang dalam pengembangan untuk di bangun ladang minyak adalah wilayah timur dan Irak pusat, termasuk Baghdad. Irak tergolong negara kedua yang makmur dan kaya di dunia Arab setelah Saudi Arabia, dan menempati posisi paling besar ketiga di timur tengah. Minyak adalah sektor yang paling utama yang menyokong perekonomian Irak. Minyak menyokong kira-kira 50% produk domestik kotor, pertanian dan industri masing-masing 10 persen, dan perdagangan 30%. Minyak memang menjadi devisa utama negara, sehingga memungkinkan pemerintah untuk menetapkan pengembangan pembangunan, termasuk penganeka-ragaman industri, peningkatan pertanian, dan ekspor minyak. Pada waktu yang sama, investasi di dalam infrastruktur begitu tinggi, khususnya di dalam proyek air, jalan kereta api, dan elektrifikasi pedesaan. Namun kemudian, sepanjang tahun 1980, peperangan antara Irak-Iran telah memporakporandakan perekonomian negara. Ekonomi menghadapi sejumlah permasalahan, mencakup hutang asing yang sangat besar, kekurangan tenaga kerja, dan sebagainya.Ekonomi dikuasai oleh pihak-pihak swasta, karena sejak tahun 1987 telah disusun liberalisasi ekonomi untuk mendorong investasi pribadi, terutama sekali di dalam perusahaan komersil dan industri kecil.[4]

Informatika


10 Hal yang Perlu Anda Ketahui Mengenai Windows 8

Oleh Rob Waugh

Microsoft Windows 8 merupakan penemuan ulang paling radikal dari sistem operasi PC yang luar biasa yang pernah ada dan digunakan oleh lebih dari dua juta orang di seluruh dunia.

Versi terbaru ini dibuat untuk PC “tradisional” dan jenis perangkat layar sentuh yang diluncurkan ulang. Kabarnya, versi ini menghabiskan biaya sebesar 1 juta dolar Amerika (sekitar Rp9,62 miliar). Tampilannya baru, lebih sederhana, serta meniadakan tombol Start yang terkenal.

Berikut ini 10 hal yang perlu Anda ketahui tentang Windows 8:

Apakah saya masih bisa menggunakan PC saya yang lama?
Banyak perangkat Windows 7 yang bisa ditingkatkan ke Windows 8, Anda dapat memeriksa perangkat Anda di sebuah halaman khusus Microsoft. Anda harus membayar untuk mengunduh sistem operasi yang baru tersebut.

Berapa biayanya?
Biaya upgrade 24,99 pound (sekitar Rp390 ribu) untuk setiap kopi unduhan. Jika Anda membeli perangkat Windows 7 setelah 2 Juni, maka biaya hanya 14,99 pound (sekitar Rp230 ribu). Perangkat Windows 8 cukup mahal. Surface Microsoft dibandrol dengan harga 499 pound (sekitar Rp7,71 juta), lebih mahal dari iPad.

Apakah ada perbedaan?
Dengan tampilan yang baru, semua aplikasi Anda muncul sebagai kotak bagian dalam layarnya, yang bekerja dengan baik dengan teknologi layar sentuh. Banyak perangkat Windows yang mengunakan keyboard dan panel sentuh.

Mana tombol Start?
Tombol itu ditiadakan, namun kegunaanya masih berada di tempat yang sama, klik kanan di ujung bawah dan menu yang disederhanakan akan muncul.

Apakah saya bisa menggunakan keyboard atau mouse?
Ya, sistem operasi baru Microsoft tersebut hibrida, dan memiliki dua tampilan yang salah satunya sama seperti Windows yang tradisional, dan dibuat untuk dapat digunakan dengan mouse dan keyboard.

Bagaimana cara mengganti kedua tampilan tersebut?

Tombol Windows pada keyboard Anda dapat mengganti tampilannya. Dalam moda Windows tradisional, Anda memiliki kendali yang terperinci dari berbagai aplikasi, sementara tampilan dengan kotak bagian lebih baik digunakan dengan kendali sentuh.

Apa bagusnya hibrida?
Dalam perangkat hibrida, Anda masih bisa menggunkan keyboard yang lebih cocok untuk digunakan untuk menghitung dengan aplikasi seperti Office, namun Anda juga bisa menggunakan layar sentuh, atau membuatnya menjadi lebih ringkas tablet.

Apa kelebihannya?
Windows 8 telah disederhanakan dan kinerjanya lebih cepat. Laporan awal menyatakan, sistem operasi ini bekerja lebih cepat namun daya baterai lebih awet dibandingkan dengan Windows 7.

Apa kekurangannya?
Banyak orang menganggap bahwa perangkat sistem operasi ganda dalam tampilan tablet dan desktop yang bersamaan itu membingungkan, dan menggantinya keduanya rumit. Untuk pengguna tablet? Itu tidak seringkas iPad.

Aplikasi apa saja yang dapat saya gunakan?
Windows 8 akan diitunjang Windows Store, yang akan menawarkan sejumlah aplikasi bagi sistem operasi baru tersebut. Tidak seperti Google, Windows Store lebih mirip Apple, yang setiap aplikasinya akan diawasi, supaya lebih aman.